Ilustrasi sosok Black Panther karya Manzel Bowman. (Foto: Instagram artxman)
Ilustrasi sosok Black Panther karya Manzel Bowman. (Foto: Instagram artxman)

Sabigaju.com – Kesuksesan diraih film Black Panther yang berhasil mencatat angka  pendapatan luar biasa. Dalam kurun waktu tiga hari, film yang dibintangi Chadwick Boseman itu telah meraih US$ 192 Juta atau Rp 2,5 triliun. Sebagai catatan, Angka tersebut khusus untuk kawasan Amerika Utara saja.

Bukan hanya di Amerika, Black Panther juga merajai box office di seluruh dunia. Di pasar dunia, film yang juga dibintangi Michael B. Jordan ini diperkirakan mengantongi US$ 169 juta atau sekitar Rp 2,2 triliun.

Sehingga jika ditotal, film ini telah meraup sekitar US$ 361 juta atau sekitar Rp 4,8 triliun di akhir pekan pertama setelah dirilis.

Sejarah dan Unsur Politis di Balik Black Panther

‘Black Panther’ adalah film langka yang keluar di Hollywood. Itu merupakan tonggak sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Besarnya pencapaian film itu sebenarnya bisa dipahami dalam dua paradigma. Konteks apa yang digambarkan oleh sebuah film dan sebuah kehebatan karya seni yang berbicara cerdas tentang politik dan sejarah.

Lihat saja saat film tersebut diluncurkan, ‘Black Panther’ dibuka dengan gegap gempita. Ada ensembel drum Afrika yang menyapa pengunjung saat memasuki bioskop di SouthSide Works.

Cuplikan adegan dalam film Black Panther (Foto: Instagram Marvel)

Dahsyatnya lagi, pesta dengan tema Afro-futurism itu memicu diskusi dari seluruh akademisi yang hadir. Orang-orang Afrika-Amerika memperlakukan ‘Black Panther’ sebagai proposal untuk mempengaruhi budaya Hollywood.

Ini akan jadi film pertama di jagad cinematic Marvel yang sebelumnya sudah mencakup pahlawan seperti Iron Man, Spider-Man, hingga superhero lain dari komik berusia 80 tahun itu.

Film ini disutradarai oleh Ryan Coogler, sutradara muda Afrika-Amerika yang sebelumnya menggarap ‘Fruitvale Station’ dan ‘Creed’, yang memenangkan banyak penghargaan.

Kostum  Apik nan Futuristik

Satu hal yang membuat film Black Panther menjadi sorotan adalah penampilan kostum nan apik. Sang desainer , Ruth Carter berusaha merepresentasikan budaya Afrika dengan sentuhan modern tanpa melecehkan suku yang ada.

Cuplikan dalam Film Black Panther ( Foto Credit: thedailybeast.com)

Dalam film ini diceritakan terdapat beberapa suku di negara Wakanda dan setiap suku mengenakan warna dominan tertentu. Keaneka ragaman warna itu nampak indah dipadukan dengan pemandangan landskap alam Afrika yang indah.

Yup, usaha Ruth Carter dalam memberikan sentuhan futuristik nampak begitu mempesona dengan pilihan warna yang menarik. Seperti dalam adegan ini, sang penasehat raja mengenakan aksesoris yang diletakkan di mulut seperti lelaki dari suku Zulu.

Bukan Sekedar Film Superhero

Dalam Black Panther, T’Challa yang muncul di Captain America: Civil War kembali ke kampung halamannya di Wakanda setelah ayahnya meninggal dunia.

Tak hanya mempersiapkan diri untuk menjadi raja selanjutnya, T’Challa juga harus menghadapi konflik yang mempertaruhkan nasib rakyat Wakanda dan umat manusia di seluruh dunia.

Cuplikan adegan dalam film Black Panther (Foto: Instagram Marvel)
Cuplikan adegan dalam film Black Panther (Foto: Instagram Marvel)

Black Panther bukan sekadar film hero di mana para jagoan bertarung dan banyak ledakan. Film ini punya pesan yang berhasil untuk tidak menggurui para pecinta film. Dalam film ini kita akan melihat betapa T’Challa dengan Killmonger punya dinamika yang membuat masing-masing  memikirkan kembali keyakinan mereka.

Di balik kostum keren, aksi dahsyat, dan perlengkapan canggih, film ini bicara tentang bagaimana para karakter yang mencari ke dalam diri akan makna keberadan mereka untuk kehidupan ini.

Yakinlah satu kata yang pas untuk film ini. Memuaskan! (Sbg/Rig)

Comments