Sabigaju.com – Melalui sebuah portal berita (20/1), Irfan Maullana telah mengulas secara apik ihwal film Wiji Tukul yang diberi judul oleh sang sutradara Yosep Anggi Noen “Istirahatlah Kata-kata”. Ulasan detil itu memperlihatkan bagaimana kepiawaian Anggi menunjukan detil-detil kecemasan Sipon yang diperankan Marissa Anita, istri Tukul yang terus bergelut melawan rasa takut akibat sepak terjang sang suami.

Detail kecemasan dan ketakutan Sipon dan anak Wiji Tukul tertuang bukan dalam kata-kata, tapi dalam setiap adegan, seperti pada sebungkus jajanan pasar yang dimakan interogator. Tatapan nanar Sipon dan situasi ruang seperti dapur dengan latar suara minyak goreng panas seakan menggambarkan bagaimana situasi getir seorang istri yang cemas menunggu kabar sang suami.

Sementara pada setiap kisah persembunyian sang penyair, Anggi dengan apik membingkai setiap narasi yang dimainkan Gunawan Maryanto, dengan penggalan adegan yang disesuaikan dengan puisi Wiji Tukul. Gunawan penekun teater asal Jogyakarta itu cukup berhasil bukan hanya memainkan gaya tutur, tapi juga gestur tubuh yang gigil kala harus melakukan pelarian dari satu tempat ke tempat lain.

"Aku tidak ingin kamu pergi, aku juga tidak ingin kamu pulang, yang aku ingin kamu ada"

Kata-kata di atas menjadi potongan dialog menutup film perjalanan getir sang penyair. Ia menyuarakan kritik lewat puisi saat kata-kata dibungkam oleh rezim politik.

Nasib Wiji sendiri hingga kini tak kunjung rimbanya. Karena itu mengapa judul “Istirahatlah Kata-kata” cukup mewakili sang pelaku.

Kisah Wiji Tukul yang sempat melarikan diri ke Pontianak selama delapan bulan pasca kerusuhan 27 Juli 1996 di Jakarta, adalah potret betapa kata-kata yang menyuarakan ketidakadilan masih menjadi momok bagi penguasa.

Tapi bagaimana hari ini, saat sebuah rezim berubah menjadi taburan tanda, citra, yang terus diumbar. Seakan zaman itu sudah terbalik. Kata-kata yang dulu seharusnya diumbar, malah dibungkam. Sebaliknya saat kebebasan ekpresi tumpah ruah, kini kata-kata terasa murah diumbar.

Di layar telepon pintar kita hampir setiap ratusan helai pesan berantai memadati laman aplikasi tanpa permisi. Kita bahkan nyaris kesulitan memilah mana yang benar dan yang tidak. Semua komentar berjejal, siapa saja boleh bicara atas nama demokrasi dan kebebasan ekpresi. Bahkan kata-kata yang tak semestinya diumbar meluncur menjadi pemicu perang komentar.

Mulai dari yang sekadar ingin tenar hingga yang iseng sekadar meluangkan waktu, kini kata-kata tampil diumbar, ia telah kehilangan daya pikat dan makna. Bahkan secara brutal kata-kata tampil dalam bentuk kekerasan, provokasi sara hingga yang paling vulgar sekalipun. Semua boleh bicara karena kata sudah beranjak dari peristirahannya sejak Wiji Tukul tiada entah kemana.

Lalu masihkah ada ruang dimana kata-kata masih digdaya di zaman yang sudah tunggang langgang jadi taburan simulacra? Masihkah kata-kata kembali pada marwahnya?(Sbg/ink)

Comments