Sosok Superhero
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Setiap cowok pasti punya sosok superhero idola saat kecil. Mau itu idola yang cuman buat keren-kerenan aja sampai idola yang menginspirasi.

Tak cuma karena mereka keren, kuat, dan punya kekuatan hebat saja, loh. Lebih dari itu, sosok superhero menjadi panutan karena mereka memberikan pelajaran soal moral dan kebajikan yang sampai sekarang masih kami pegang dengan era

Sayangnya kisah cerita dan tayangan sosok superhero punya dampak buruk terhadap anak-anak.

Dampak Kekerasan dalam Kisah dan Tayangan Superhero

Umumnya film tentang sosok superhero membawa pesan tentang kebaikan mengalahkan kejahatan, namun sebuah penelitian malah membantah hal itu

Kisah dan tayangan sosok superhero sebenarnya juga mengirimkan pesan berbahaya kepada anak lelaki dengan menggambarkan karakter “baik” dengan menoleransi kekerasan.

Sebuah analisis yang dilakukan peneliti Penn State College of Medicine merinci dari 10 film pahlawan super yang dirilis pada tahun 2015 dan 2016 menemukan bahwa tokoh protagonis, atau “orang baik”, rata-rata melakukan 23 tindak kekerasan dalam satu jam dan tokoh antagonis “orang jahat”, melakukan 18 tindak kekerasan per jam.

BACA JUGA: Berani Coba Gaya Bercinta Ala Superhero Berikut Ini? 

Anehnya, tokoh protagonis juga berperan sebagai melakukan pembunuhan lebih banyak dari tokoh antagonis.

Selanjutnya, pahlawan super lelaki terlibat dalam lima kali melakukan kekerasan sebanyak pahlawan super perempuan.

“Anak-anak dan remaja melihat pahlawan super sebagai ‘orang baik’, dan mungkin dipengaruhi oleh peran mereka dalam berperilaku mengambil risiko dan melakukan kekerasan,” ujar peneliti dan penulis studi tersebut,  Profesor Robert Olympia.

Untuk itu penting mengevaluasi apa yang mereka lihat dan menyesuaikan dengan nilai-nilai yang berlaku di keluarga.

BACA JUGA: Bukan Cuma Superhero, Kamu Juga Bisa Miliki Kemampuan Super 

Dampak Agresivitas

Studi lain yang juga mengungkap dampak buruk budaya ataupun sosok superhero terhadap anak pernah dilakukan oleh para peneliti dari Brigham Young University AS dan diterbitkan dalam Journal of Abnormal Child Psychology.

Menurut salah satu peneliti, Professor Sarah Coyne, mengatakan bahwa anak usia dini menunjukkan kecenderungan agresivitas setelah kerap terpapar tayangan atau kultur sosok superhero baik secara fisik maupun dalam hubungan dengan orang lain.

Coyne berteori, penyebabnya adalah karena sebagian besar tayangan pahlawan super tidak diperuntukkan bagi anak usia prasekolah.

BACA JUGA: Kupas Habis Soal Anti-hero vs Superhero, Biar Kamu Nggak Gagal Paham

Mayoritas program punya alur cerita kompleks yang menjalin kekerasan dan perilaku prososial, sedangkan anak usia dini belum memiliki kemampuan kognitif untuk memilah mana pesan moral di dalamnya.

Paparan adegan kekerasan juga dikaitkan dengan rendahnya empati dan tak berkembangnya aspek emosional.

Coyne menyarankan agar para orangtua melibatkan anak dalam banyak aktivitas, dan tempatkan tayangan atau kisah sosok superhero hanya sebagai salah satu dari sekian banyak hal yang bisa mereka pilih. (Sbg/Rig)

Comments