Sabigaju.com – Menjadi orangtua tentunya adalah suatu tantangan tertentu bagi setiap orang dalam babak baru hidupnya. Sudah banyak pakar psikologi dan anak yang membahas kaitan gaya parenting dengan kesehatan mental si anak. Sekarang saatnya kita bahas bagaimana dampak dan sudut pandang orang tua dalam menjalankan tugasnya. Tidak kalah penting dengan perkembangan dan kesehatan mental anak, mental orang tua juga terkena pengaruh dari gaya yang diterapkannya. Berikut beberapa pengaruh gaya parenting dengan kesehatan mental sang orang tua.

Gaya Helikopter. Menjadi pengendali alias pilot dalam perkembangan dini anak adalah standard yang paling dasar sebagai orang tua. Dengan mengendalikan anak, orangtua sering merasa aman dari resiko perkembangan yang salah dalam diri anaknya. Namun, semakin dalam campur tangan orangtua dalam mendidik anak, semakin berat juga tanggung jawabnya dalam menanamkan mental yang baik pada anak. Selalu sedia menolong sang anak dalam keadaan apapun, membuat anak menjadi tergantung pada orang tuanya. Orangtuapun terkena dampak repot dan mudah merasa bersalah saat suatu ketika ia ‘gagal’ menyelamatkan anaknya. Rasa gagal inilah yang memicu para orangtua menyalahkan diri sendiri dan cenderung tidak berwibawa di mata anak. Dengan kehilangan wibawanya, anak dapat dengan mudah meremehkan orangtua dan menggampangkan berbagai masalah.

Baca juga: Minimalisir Drama Babysitter Dalam Keluarga

Gaya Otoriter. Banyak juga orangtua yang merasa berkuasa atas anaknya, terutama saat sang anak masih dalam tahap berkembang. Gaya otoriter dalam mendidik anak sering terlihat dari banyaknya perintah yang keluar dari mulut orangtua ke anak. Tidak sedikit anak yang memang penurut, selalu mengikuti apa yang orangtuanya katakan. Ada juga anak yang kemudian menjadi pembangkang saat sampai pada titik di mana orangtuanya memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan mereka. Dampak negatif untuk orangtua yang bergaya mendidik otoriter adalah kehilangan kredibilitas di mata sang anak. Orangtua dapat dicap sebagai pemimpin yang omdo alias omong doang tanpa memberikan contoh. Setelah dilabeli seperti ini oleh anak, para orangtua tidak jarang malah mendapati anaknya berbohong demi menghindari konflik dengan mereka. Efek lebih jauhnya, orangtua jadi sering mudah marah dan terpicu emosinya untuk berbuat atau berkata kasar karena ditentang oleh sang anak.

Gaya Otoriter dan Disiplin. Untuk gaya orangtua yang terbilang ideal ini, tantangan justru hadir saat mulai menerapkan hal baru pada anak. Dengan menerapkan gaya otoriter, di mana orangtua memang memiliki kuasa lebih terhadap anak, kedisplinan jadi salah satu faktor pelengkap yang penting. Dengan menghadirkan faktor disiplin, anak jadi belajar bukan hanya mendengar dan mengikuti perintah, namun juga melihat teladan dari orang tua. Dampak gaya ini terhadap mental orang tua adalah, keteraturan dan keseimbangan hidup yang memadai. Selain melatih anak untuk hidup teratur, orang tua juga jadi konsisten dengan gaya hidup yang baik demi mendidik anak. Tidak dapat dipungkiri bahwa yang dipelajari anak datang lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibanding yang mereka dengar. Dengan menerapkan gaya otoriter dan disiplin, orangtua tidak hanya mendapati anak yang seimbang, namun juga mental yang sehat.

Setiap orangtua memiliki pilihan dan kondisinya masing-masing dalam menerapkan gaya parenting mereka. Tentunya tidak ada benar atau salah, baik atau buruk ketika menerapkan sistem pendidikan anak. Yang ada hanyalah insting dan intuisi masing-masing orangtua terhadap anak mereka. Setiap anak punya keadaannya sendiri dan orangtua memang harus memahami keadaan anaknya sebelum menerapkan metode pendidikan apa. Jangan lupa, apapun pilihan gaya mendidik anak, orangtua juga akan terkena imbasnya dari segi mental orang dewasa. (sbg/Novel)

Comments