Video Porno Deepfake
Kenyamanan berselancar di dunia maya kini tengah mendapat ancaman dari banyaknya video porno palsu alias video porno deepfake yang berseliweran di Internet. (Foto: Unsplash)

Sabigaju.com – Kecanggihan teknologi artificial intelligence alias kecerdasan buatan ( AI) yang sejatinya dirancang untuk mempermudah kehidupan sehari-hari di berbagai sektor. Namun, belakangan, AI dimanfaatkan oknum tertentu untuk mengembangkan video palsu atau  video porno deepfake.

Istilah yang merupakan gabungan dari proses AI deep learning dan fake alias palsu ini mengacu pada wajah seseorang yang “ditempel” ke tubuh orang lain ala modifikasi foto, tapi diterapkan pada video.

Hasilnya bisa sangat halus dan realistis dengan penggunaan AI, termasuk segala macam ekspresi wajah dan pencahayaan, sehingga tampak meyakinkan.

BACA JUGA:

Maraknya Video Deepfake Porno Palsu

Dalam konteks pornografi, oknum pembuat video porno deepfake mencaplok wajah perempuan di internet, lalu memasangnya pada video yang memperlihatkan badan orang lain tanpa busana.

Hal itu dilakukan sewenang-wenang, tanpa meminta izin ke si empunya wajah. Alhasil, korban tampak seakan-akan memainkan aksi porno yang tak pernah ia lakukan sama sekali.

Video palsu ini bisa menyasar siapa saja. Proses pembuatan video p;orno deepfake bisa disimak dalam penjelasan The Verge melalui video pendek di akun Twitter-nya, sebagai berikut.

Jadi, deepfake tak cuma bisa memanipulasi video porno, tetapi juga wawancara tokoh politik dan hal-hal lainnya yang mendatangkan kontroversi.

Hal ini seakan menunjukan kalau internet adalah tempat yang menyeramkan bagi perempuan, sebab banyak lelaki yang semakin merasa berhak atas tubuh perempuan secara virtual.

Deep fake memungkinkan semua orang menciptakan video dengan menggunakan seseorang yang nyata yang tampak mengucapkan sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah mereka ucapkan.

Belum ada Solusi Mengatasi Video Porno Deepfake

September lalu, Google menambahkan “citra foto pornografi yang tak disengaja” ke daftar konten yang dilarang (ban list).

Artinya, para korban video deepfake bisa meminta mesin pencari untuk memblokir hasil penelusuran yang secara keliru menggambarkan mereka sedang telanjang atau dalam situasi seksual yang eksplisit.

Namun, solusi ini belum benar-benar menyelesaikan masalah. Jumlah video deepfake sudah terlalu banyak.

Sudah saatnya Kita kini mengawasi dan jangan terlalu larut dalam euphoria kecanggihan teknologi. Sebab lebih penting kedepannya untuk membuat antisipasi penyalahgunaan teknologi terkait video deepfake dan bagaimana upaya untuk mengatasinya. (Sbg/Rig)

Comments