Tsunami
Gelombang Tsunami terjadi di sejumlah wilayah di Kawasan Selat Sunda seperti Serang. Pandeglang serta di wilayah Lampung Selatan pada Minggu (23/12) dini hari. (Foto Instagram

Sabigaju.com – Duka kesedihan kini tengah dialami bangsa Indonesia lantaran telah terjadi tsunami di wilayah Banten dan Lampung pada hari Sabtu (22/12) malam.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan dalam konferensi pers pada Minggu (23/12/2018) dini hari bahwa berdasarkan ciri gelombangnya, tsunami yang terjadi kali ini mirip dengan yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah lalu. “Periodenya (periode gelombang) pendek-pendek,” katanya.

BMKG juga menduga bahwa tsunami dengan ketinggian tertinggi 0,9 meter ini disebabkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau yang pada Sabtu bererupsi hingga 4 kali, terakhir pada pukul 21.03 WIB.

Erupsi gunung api itu diduga menyebabkan guguran material yang jatuh ke lautan dan akhirnya mengakibatkan gelombang tinggi. Menurut BMKG, gelombang yang menerjang bisa jadi lebih tinggi dari yang terdata sebab ada beberapa wilayah di sekitar Selat Sunda yang punya morfologi teluk seperti di Palu.

BACA JUGA:

 

Update Jumlah Korban

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban tewas akibat bencana yang menerjang Selat Sunda, Anyer dan Lampung, pada Sabtu (22/12) menjadi 62 orang tewas, 584 luka, 20 Hilang

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan bencana alam yang menerjang pesisir Pandeglang dan Lampung tersebut juga menyebabkan kerugian fisik seperti 430 unit rumah, 9 hotel, 10 kapal, dan puluhan bangunan lainnya rusak berat.

Tsunami
Pihak kepolisian menyelamatkan seorang anak Kecil Korban Selamat di Hotel Mutiara Carita Kec.Labuan, Banten. (Instagram humaspoldabanten)

Penanganan darurat terus dikerahkan ke lokasi bencana. Status tanggap darurat seperti pembentukan struktur organisasi tanggap darurat, pendirian posko, dapur umum masih disiapkan bagi para pengungsi.

Masyarakat dihimbau tidak melakukan aktivitas di sekitar pantai saat ini. BMKG dan Badan Geologi masih melakukan kajian untuk memastikan penyebab tsunami dan kemungkinan susulannya.

Masyarakat pun dihimbau tetap tenang dan tidak terpancing pada isu-isu yang menyesatkan. Sutopo mengatakan, untuk sementara hindari aktivitas di sekitar pantai, naun tetap memperhatikan kondisi lingkungan yang ada.

Band Seventeen Terbawa Gelombang Tsunami

Beberapa personil grup band Seventeen belum ditemukan pascatsunami Banten yang terjadi pada Sabtu (22/12/2018) malam.

Band yang terkenal dengan lagu “Jaga Selalu Hatimu” itu sedang tampil di sebuah acara di Tanjung Lesung Beach Resort, Banten, saat bencana alam itu terjadi.

Tsunami
Band Seventeen turut tersapu gelombang tsunami saat manggung di kawasan Pantai Anyer) (Foto: seventeenbandid)

Salah satu personil yang telah ditemukan adalah M Awal Purbani atau Bani pemain bass grup band Seventeen.Namun, korban ditemukan dalam keadaan meninggal dalam bencana tsunami yang menerjang Pantai Tanjung Lesung Banten.

Selain Bani, Road Manager mereka yang bernama Oki Wijaya juga meninggal dunia. Seventeen sendiri kini tengah mempromosikan lagu baru mereka yang berjudul ‘Jangan Dulu Pergi’. (Sbg/Rig)

Comments