Sabigaju.com – Kursi dan meja nampak selalu penuh diisi orang di Filosofi Kopi. Beberapa kaum milenial tampak sibuk berccengkerama sambil menyesap secangkir kopi yang mereka pesan. Kedai kopi yang didirikan oleh Rio Dewanto dan Chicco Jerikho ini terbilang sukses dalam waktu singkat. Bahkan, Filosofi Kopi sudah mulai merambah di kota-kota besar Indonesia. Beberapa artis yang kebetulan tergolong kaum milenial juga mulai merambah bisnis kedai kopi. Sebut saja Keenan Pearce dan Ernanda Putra dengan Makna Coffee. Ada pula Nino Fernandez dengan Dibawahtangga. Hal tersebut menyimpulkan satu hal, adanya tren bisnis kedai kopi di kalangan milenial.

Baca juga: Penggemar Brunch Harus Coba 5 Lokasi Mewah di Ibukota Jakarta

Gaya Hidup Milenial yang Suka Berkumpul

Meskipun kedai kopi sudah banyak bertebaran di sudut-sudut kota, tetapi penikmat kopi dari waktu ke waktu semakin bertambah. Dikutip dari Tirto.id Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) menyimpulkan ada peningkatkan jumlah konsumsi kopi per kapita. Pada awalnya, tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia mencapai 0,8 kg per kapita. Pada tahun 2017, meningkat hingga 1,2 kg per kapita. Diperkirakan pada tahun 2018 akan mencapai 1,4 hingga 1,5 kg per kapita.

Interior Dalam Kopi Oey di Jl. Kh Agus Salim Jakarta

Namun, hal paling utama yang membuat bisnis kedai kopi sulit untuk mati adalah kegemaran untuk berkumpul. Banyak kaum milenial yang ingin berkumpul dengan teman-temannya di tempat yang enak untuk ngobrol. Banyak juga para pekerja yang ingin melepas penat dengan rekan kerjanya di sebuah tempat yang santai. Dari situlah kebutuhan akan kedai kopi terasa. Orang menganggap kedai kopi adalah tempat yang nyaman untuk bercengkerama dengan teman, rekan kerja, ataupun keluarga. Dengan kata lain, kedai kopi menjadi pilihan utama bagi kaum urban untuk berkumpul.

Hal tersebut tentu menimbulkan pertanyaan bagi para milenial yang ingin membuka usaha kedai kopi. Seperti apa kedai kopi yang ideal untuk mampu menarik orang?

Kedai Kopi yang Ideal

Luasnya penikmat kopi memberikan lampu hijau bagi milenial untuk lekas membangun usaha kedai kopi miliknya. Namun, tidak sedikit juga yang bingung untuk memulai usaha. Umumnya, mereka bingung untuk menentukan konsep kedai yang mereka inginkan dan bagaimana cara mengurusnya agar tetap berjalan.

AEKI menemukan bahwa tren belakangan ini kedai kopi dinilai sudah tidak sehat. Ukuran kedai kopi yang terlalu kecil dan harga kopi yang terlalu mahal menjadi faktor utama tren kedai kopi menjadi tidak sehat. Pada dasarnya, membuka kedai kopi tidak hanya sebatas menjual kopi dan menu lainnya kepada pelanggan. Namun, mampu memberikan pengalaman yang berkesan bagi pelanggan agar mau datang lagi.

Hal yang paling mudah dalam memberikan pengalaman adalah memberikan konsep yang menarik untuk kedai kopi. Buatlah interior, arsitektur, dan aksesoris yang memiliki tema tertentu agar menarik para pelanggan. Selain itu, adanya fasilitas dasar yang menunjang seperti tempat parkir, toilet yang memadai, dan akses internet membuat pelanggan betah berlama-lama untuk duduk di kedai kopi. (Sbg/Erny)

Comments