Ilustrasi Toxic Positivity
(Sumber: lifebuzz.com)

Sabigaju.com – Di masa situasi pandemi; ada kerancuan tentang  bagaimana membedakan optimisme di masa sulit dengan toxic positivity; serta bagaimana cara menghadapi lingkungan yang masih belum peduli dan cenderung abai dengan protokol covid-19 sehingga menimbulkan kecemasan dan perasaan insecure.

Beberapa di antara kita mungkin kerap mendapat ucapan penyemangat “Kita mesti kuat di masa pandemi ini”sambil menyuruhmu mengambil hikmah dan jangan menyerah dan bersyukur karena di luar sana ada yang hidupnya lebih menyedihkan darimu.

Padahal, bisa jadi kalimat darinya merupakan toxic positivity. sebuah istilah yang merujuk pada situasi ketika seseorang memaksa orang lain untuk merasakan sisi baik dari suatu hal, tanpa memberi kesempatan orang itu untuk meluapkan perasaannya.

BACA JUGA: Terlanjur Sayang dalam Toxic Relationship? Wake Up Bro!

 Kita Harus Selalu Merasakan Bahagia  Nggak Boleh yang Lain

Dalam sebuah ulasan yang di muat di laman Psychology Today, menghindari emosi di dalam diri bisa membuat kita kehilangan informasi yang bernilai.

Saat kita merasa takut, misalnya. emosimu sebenarnya sedang memberitahu “Hati-hati, ada bahaya di sekitar!” sehingga kamu bisa lebih waspada.

Sebab emosi sejatinya adalah informasi; mereka memberimu cuplikan-cuplikan tentang apa yang terjadi di suatu waktu, tapi mereka tidak memberitahu secara pasti apa yang harus kamu lakukan.

Selain itu  menurut hasil peneltian yang dilakukan Joane V. Wood  dan rekan peneliti lain yang dimuat di laman jurnal Psychological Science, menulis bahwa ketika seseorang terus bilang ke diri sendiri “aku nggak apa-apa”, “aku hepi”, “aku kuat” atau kalimat yang berlawanan dengan perasaannya, ini malah semakin menenggelamkan orang tersebut ke perasaan buruk yang makin dalam.

Dan Ironisnya, begitu banyak  buku-buku  motivasi dan seminar yang dilakukan oleh motivator selalu menggaungkan kalimat berbau toxic positivity.

BACA JUGA: Menjauh dari Anggota Keluarga yang Toxic Itu Keputusan Tepat

Tegaslah Terhadap Para penyebar Toxic Postivity

Toxic Positivity membuat Kita seakan-akan  tidak boleh merasakan emosi yang lain. Seolah-olah menangis adalah cara yang salah dalam melampiaskan perasaan. Kita terus diminta memendam perasaan selain bahagia.

Padahal di masa pandemi seperti ini,  meski ada  ajakan optimisme untuk memulai new normal,  tak sedikit orang yang  rentan dengan stres.  So, bukan tidak mungkin salah satu dari kita merasa sedih atau bosan atau lelah dengan situasi ini.

Jadi sob ,  jika kamu ingin menangis lampiaskan saja. Tidak ada yang salah dengan menangis dan bersedih. Kita sebagai pria tidak dilarang untuk menangis, berempati, sedih dan perasaan lainnya.

Seringkali  orang lupa bahwa menangis bukan tanda lemah. Air mata justru diciptakan untuk mengingatkan kita bahwa manusia lebih unggul dari robot paling canggih sekalipun.

Yang kita semua butuhkan adalah hal baik dengan dosis positif  bukan toxic positivity! (Sbg/Rig)

Comments