museum di jakarta
Sumber: tripadvisor.com

Sabigaju.com – Berkunjung ke museum sedang jadi tren lagi, baik di dalam maupun luar negeri, oleh kalangan pelajar maupun masyarakat umum. Selain karena ingin belajar sejarah, ternyata ke museum juga memperkaya pengetahuan tentang hal baru. Di Jakarta ada banyak nama museum yang sudah populer, tapi coba cek tiga museum berikut ini, sudah pernah dengar?

Tiga Museum di Jakarta yang Penuh Sejarah

1. Museum Jendral Abdul Harris Nasution.

Gerakan Pemberontakan 30 September 1965 (G30S PKI) pastinya bukan hal yang asing bagi bangsa Indonesia. Peristiwa penolakan ideologi Pancasila ini terjadi dengan sangat keji di sebagian besar wilayah Indonesia terutama pulau Jawa. Banyak peninggalan dari peristiwa ini terangkum di Museum Lubang Buaya atau Museum Pancasila Sakti di Jakarta Timur.

Tokoh-tokoh yang menjadi korban dalam pemberontakan tersebut adalah enam Jendral Angkatan Bersenjata Indonesia (sekarang TNI). Selain itu, salah satu korban yang tewas adalah, Pierre Tendean ajudan dari Jendral A..H Nasution. Karena dilindungi oleh sang ajudan tersebut, Jendral Nasution menjadi satu-satunya Jendral yang masih hidup hingga masa pasca pemberontakan.

Museum Jendral Nasution terletak di kawasan Menteng, dimana banyak warga pernah melewatinya namun tidak pernah sadar keberadaannya. Museum ini adalah tempat tinggal sang Jendral dan keluarganya saat terjadi pemberontakan. Peristiwa penyerangan dan penembakan pada masa itu menewaskan anak bungsu Jendral Nasution, Ade Irma Nasution.

Artefak peninggalan keluarga Nasution sejak kejadian tersebut terawat dan tertata rapih di museum ini. Pengunjung bisa melihat ilustrasi peristiwa penyerangan lewat diorama yang diletakkan di dalam rumah. Selain perasaan merinding, siap-siap juga merasa kagum pada sosok Jendral ini. Ternyata selain berperan di militer Indonesia, beliau juga adalah pemikir terpelajar yang sudah menerbitkan banyak buku dan tulisan.

2. Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Peristiwa pembacaan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia juga pasti sangat familiar untuk rakyat Indonesia. Terlebih teks yang sama dibacakan dalam perayaan hari kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya pada tanggal 17 Agustus. Uniknya, tidak banyak yang memperhatikan sejarah pembuatan Naskah Proklamasi tersebut. Peristiwa Rengasdengklok, bendera merah putih pertama, atau berkumandangnya lagu Indonesia Raya, adalah mungkin 3 dari beberapa hal yang sering didengar. Tapi bagaimana dengan tempat perumusan naskah proklamasi?

Naskah yang menjadi simbol kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Jepang ini ternyata tidak dibuat dalam jangka waktu lama. Naskah sakral bangsa ini ternyata jadi hanya dalam waktu semalam dan melalui proses yang lumayan panas. Museum Perumusan Naskah Proklamasi menceritakan lebih dalam dan detail kejadian demi kejadian yang dilewati oleh tokoh-tokoh pencetus kemerdekaan Indonesia.

Museum yang tadinya adalah rumah dinas Laksamana Muda Jepang bernama Maeda ini, terletak di kisaran Menteng, Jakarta Pusat. Tamu yang berkunjung ke museum ini akan disambut dengan kisah sejarah yang tidak biasa. Pengunjung akan belajar lagi tentang Naskah Proklamasi dan kejadian pada masa sebelum dan sesudahnya.

3. Museum Kebangkitan Nasional

Meskipun tidak berada di tengah kota seperti dua museum di atas, Museum Kebangkitan Nasional terletak di Senen, Jakarta Pusat. Gedung tua ini adalah tempat lahirnya kesadaran nasional bahwa Indonesia dan rakyatnya memiliki potensi yang besar. Museum ini menceritakan bahwa rakyat Indonesia tidak hanya terdiri dari petani dan nelayan, tapi juga para pemikir dan revolusioner negara.

Museum Kebangkitan Nasional awalnya adalah sekolah yang didirikan Belanda dan diberi nama STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Sekolah ini adalah tempat dimana para calon dokter atau tenaga medis menimba ilmu dan berorganisasi.

Mengangkat tema kebangkitan, museum ini mencerminkan rakyat Indonesia yang terdidik dan berkemauan keras dalam mewujudkan cita-cita mereka. Gedung yang juga adalah rumah pertama dari organisasi Boedi Oetomo, Trikoro Dharmo, dan organisasi muda lainnya.

Tempat ini juga pernah menaungi sejumlah tokoh penting seperti Ki Hadjar Dewantara, Tijpto Mangoenkoesoemo dan R. Soetomo. Di dalam museum ini juga ada peninggalan bersejarah yang menandakan kemajuan teknologi kesehatan pada masa pra-kemerdekaan. Pengunjung dapat melihat contoh alat kedokteran dan ruangan kelas yang digunakan oleh para siswa penghuni asrama pada masa itu.

Akhir pekan ini, ayo sempatkan satu hari untuk berkunjung ke salah satu museum di Jakarta. Dengan mengunjungi museum, tidak hanya pengetahuan yang bertambah, tapi juga rasa cinta tanah air Indonesia. (Sbg/Nvl)

Comments
Tampilkan Lebih Banyak Artikel Terkait
Tampilkan Lebih Banyak Ladrina Sabigaju
Tampilkan Lebih Banyak Dalam Lifestyle
Komentar ditutup

Lihat juga

Penelitian Terbaru, Meniup Hidung Bantu Wanita Capai Orgasme

Sabigaju.com – Untuk mencapai puncak kenikmatan, penetrasi bukanlah segalanya. Ada f…