Ilustrasi. (Pixabay)

Sabigaju.com – Pernah mengalami kehabisan kata-kata ketika pasangan terus mengulangi kesalahan-kesalahan kecil yang sama? Pernah rasanya ingin berteriak karena kesal setengah mati pada sikap pasangan? Tenang, kamu merasakan hal ini bersama ratusan juta orang lain di luar sana. Banyak orang berfikir kesempurnaan itu kunci kebahagiaan padahal tidak harus sempurna untuk bahagia dan banyak hal untuk mencapai kebahagiaan itu sendiri.

Pada awal membina hubungan, mungkin kita sempat berpikir tentang sosok sempurna yang akan kita cintai, dan mencintai kita apa adanya. Ini sering terjadi, dan ini menarik. Di kepala kita, seringkali menginginkan sosok ideal yang nyaris sempurna, sambil berharap diterima dengan apa adanya kita.

Padahal sebagaimana kita, pasangan kita adalah sosok yang sama tidak sempurnanya. Seseorang yang akan mengulangi kesalahan kecil berkali-kali, seseorang yang tidak pernah meletakkan kembali barang pada tempatnya, seseorang yang jarang berkata “I love you”, atau bahkan seseorang yang luar biasa tidak peka terhadap suasana hati kita.

Sering terpikir bagaimana caranya agar tidak lagi berhadapan dengan hal-hal menyebalkan dari pasangan? Jawabannya mudah saja; dengan tidak lagi hidup bersamanya. Tidak terbayang, kan?

Lalu bagaimana hubungan dua orang dewasa yang tidak sempurna ini dapat bertahan? Konsep mencintai ala jepang yang dinamakan Wabi Sabi, bisa dijadikan acuan untuk mulai menjadikan pasangan yang tidak sempurna menjadi pasangan yang luar biasa.

Menerima Bahwa Dia Sama Tidak Sempurnanya Seperti Kita

Seperti kita, dalam dirinya pun pasangan kita ingin diterima apa adanya. Selama kekurangan tersebut bukanlah hal-hal seperti kekerasan, perkataan kasar, maupun perselingkuhan yang berulang, maka kita bisa mulai mencintai kekurangan pasangan sebesar kita mencintainya. Sebesar dia mencintai kekurangan kita.

Tidak Berpikir Bahwa Diri Kita “Lebih” dari Pasangan

“Secara fisik, saya lebih baik dari pasangan saya”, “Pendapatan saya lebih besar dari dia”, “Pergaulan saya lebih luas dari pada dia”, dan pikiran-pikiran sejenis yang muncul, adalah bibit unggul untuk menumbuhkan rasa “kurang” tentang pasangan. Ingat, tidak ada manusia yang sempurna.

Mungkin kita unggul dalam penghasilan, namun pasanganlah yang memperhatikan dan menjaga kesehatan kita, bahkan lebih baik daripada diri kita sendiri. Mungkin dalam latar belakang pendidikan, kita lebih unggul. Namun dalam semangat belajar, pasangan kita tidak kalah gigih, sehingga dia bisa menjadi pasangan diskusi yang menyenangkan.

Seperti kita, dia juga memiliki keunggulannya sendiri. Kenapa harus terfokus pada kekurangannya?

Jangan Terpaku Pada Apa yang Salah

“Dia tidak peka, sama sekali tidak peka”, “Dia sering sekali membuat saya menunggu lama”, “Dia terlalu sibuk dengan dunianya”…..wah, akan banyak sekali daftar kesalahan pasangan, dan semakin lama daftar itu bukannya berkurang, tapi malah bertambah. Pernahkah kita juga menyempatkan membuat daftar panjang kebaikan pasangan, yang kualitasnya belum tentu kita dapatkan dari orang lain?

Misalnya, pasangan memang tidak peka, tapi dia bisa terjaga semalaman menjaga kita ketika sakit. Dia terlalu sibuk dengan dunianya, namun ternyata selalu berusaha untuk memberikan waktu lebih untuk bersama. Dia tidak seperti yang kita harapkan pada awalnya, tapi dia adalah orang yang mendoakan kebaikan kita setiap harinya.

Setelah ini, coba memulai daftar panjang kebaikan pasangan, agar dapat menyadari betapa beruntungnya kita memiliki dia.

Tidak Harus Sempurna Untuk Bahagia

Terlalu fokus pada kekurangan dan ketidaksempurnaan, akan membuat kita lupa berbahagia. Ingat-ingat terus hal yang membuat kita bahagia ketika bersamanya, dan lakukan secara berkala. Tambahkan juga variasi-variasi lain, seperti liburan impulsif berdua, membisikkan “i love you” di tempat dan waktu yang tak terduga, atau mengobrol tentang berbagai topik, dan setiap kali setuju dengan pendapat pasangan, berikan dia sebuah ciuman. (Sbg/Rig/Ldr)

Comments