Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto hari ini kembali mengikuti sidang di pengadilan Tipikor Jakarta dengan agenda pembacaan tuntutan jaksa penuntut umum. (Foto : Instagram)
Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto hari ini kembali mengikuti sidang di pengadilan Tipikor Jakarta dengan agenda pembacaan tuntutan jaksa penuntut umum. (Foto: Instagram)

Sabigaju.com – Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto siap menghadapi tuntutan jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada jaksa perihal tuntutan hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya.

Salah satu kuasa hukum Setnov, Firman Wijaya menambahkan pihaknya sudah siap mendengarkan tuntutan dari jaksa penuntut umum KPK. Namun Firman enggan berandai-andai mengenai tuntutan yang nantinya disampaikan pihak lembaga antirasuah itu.

Tim penuntut umum menyiapkan tuntutan setebal 2.415 halaman bagi bekas Ketua DPR dan bekas Ketua Golkar Setya Novanto. Namun, Jaksa menyepakati untuk hanya membacakan identitas, fakta dan analisa yuridis dan tuntutan.

Trending Topic Tiang Listrik

Perhatian warganet atas proses persidangan Setnov bisa dibilang tinggi. Dan lagi-lagi Warganet kembali mengaitkan persidangan Setnov dengan tiang listrik.

Hal itu seakan mengulang apa yang terjadi pada medio November 2017 lalu. Setnov yang kala itu masih menjabat sebagai ketua DPR mengalami kecelakaan di Jalan Permata Hijau, Jakarta Selatan lantaran menabrak tiang listik.

Namun bukanya ungkapan kesedihan yang dicuitkan netizen, melainkan tanda pagar #SaveTiangListrik.Bahkan ada orang yang iseng dengan memberi karangan bunga di tempat tiang listrik yang ditabrak mobil yang membawa Ketua DPR tersebut.

Kini tagar #TiangListrikBicara diusung warganet yang menyoroti persidangan Setnov.

Bikin Heboh Saat Sidang

Setnov  sembuat mmbuat heboh publik dalantaran dalam persidangan sebelumnya sempat mengungkap nama-nama lain yang turut menerima uang panas dari proyek yang ditaksir merugikan negara hingga Rp2,3 triliun.

Mereka yang disebut Setnov di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayan Puan Maharani, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, mantan pimpinan Badan Anggaran (Banggar) Melchias Marcus Mekeng, Olly Dondokambey, dan Tamsil Linrung.

Kemudian ada juga nama mantan pimpinan Komisi II DPR Chairuman Harahap, dan Ganjar Pranowo.

Setnov didakwa memperkaya korporasi yakni Manajemen Bersama Konsorsium PNRI, Perum PNRI, PT Sandipala Artha Putra, PT Mega Lestari Unggul, PT LEN Industri, PT Sucofindo, dan PT Quadra Solution. Akibatnya, negara merugi sebesar Rp2,3 triliun.

Setnov didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) subsider Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (Sbg/Rig)

Comments