(Foto: Pexels)

Sabigaju.com – Beberapa waktu terakhir, Facebook mendapat sorotan dunia. Media sosial raksasa tersebut “kecolongan” data penggunanya lewat skandal Cambridge Analytica. Sang CEO Facebook, Mark Zuckerberg, harus rela menghadapi rentetan pertanyaan yang dilayangkan oleh Pemerintah AS. Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan menggelitik yang dilontarkan senator AS, ada satu pertanyaan yang absen dari situ; apa zaman digital menjadi sebuah kemajuan atau kemunduran bagi umat manusia?

Buku The People vs The Tech karangan Jamie Bartlett mengingatkan kita tentang bahaya dari revolusi digital. Berangkat dari semangat techno-optimist ke techno-scheptic lalu ke techno-panicker, Bartlett mengajak pembacanya untuk berhati-hati bahwa ada ancaman nyata untuk demokrasi dan kemanusian dalam setiap kode yang dibuat oleh perusahan-perusahaan Silicon Valley.

Zaman Digital dan Pengaruhnya

Dalam bukunya, Bartlett dengan jelas meneliti tentang pengaruh berkembangnya zaman digital terhadap aspek sosial dan politik. Lebih lanjut lagi, Bartlett khawatir bahwa berkembangnya zaman digital akan mempengaruhi struktur sosial dan kebebasan individu. Tentu Bartlett setuju bahwa keberadaan zaman digital hidup menjadi serba mudah. Orang bisa menjadi lebih gampang mendapatkan informasi, lebih kaya, dan di beberapa situasi menjadi lebih bahagia.

Hal tersebut juga digaungkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi. Mereka membuat piranti dan aplikasi yang sering digunakan orang tapi lupa bahwa seolah-olah mereka menghancurkan demokrasi. Bartlett menunjukkan hal tersebut dengan data yang lengkap tentang algoritma pengumpul data, iklan yang manipulatif, dan pengalihan “penalaran moral dan politik” dari manusia ke mesin. Jika hal tersebut dibiarkan, maka akan semakin susah untuk dihentikan. Bartlett juga meramalkan, kurang dari dua dekade lagi beberapa teknologi yang tidak diatur oleh pemerintah, teknologi AI, dan pengukur kecurangan pemilu akan merusak demokrasi yang sehat dan aktif.

Sebelum semuanya terlambat, Bartlett memberikan solusi agar zaman digital tidak menggerus demokrasi dan kehidupan individu. Bartlett mengidentifikasi beberapa kunci seperti masyarakat yang aktif, pemilu yang bebas, ekonomi yang kompetitif, dan pertukaran budaya agar demokrasi bekerja secara kolektif sesuai yang rakyatnya percaya dan dukung.

BACA JUGA: Angka Kebocoran Data Pengguna Bertambah, Indonesia Ancam Tendang Facebook

Kita adalah Pembangun Zaman Digital

Hal utama yang digarisbawahi oleh Bartlett dalam The People vs The Tech adalah zaman digital menggerus keutuhan demokrasi dan sosial. Satu hal lagi yang Bartlett garisbawahi adalah kita juga ikut membangun zaman digital. Perusahaan-perusahan teknologi seperti Facebook, Google, Twitter, dan lain sebagainya tidak akan berkembang jika bukan karena kita.

Setiap klik, komentar, dan share yang kita lakukan menjadi “makanan” algoritma mereka sehari-hari. Layanan “gratis untuk mengakses” yang mereka berikan membuat kita terdistraksi dan kecanduan. Bahkan, algoritma yang berasal dari klik, komentar, dan share kita akan mampu menentukan pilihan hidup kita tanpa memberikan kebebasan bagi kita untuk memilih.

Solusi yang ditawarkan Bartlett cukup simpel dalam menghadapi zaman digital. Pertama, kita harus sadar bahwa kita ikut membangun zaman digital dan ikut bertanggung jawab atas itu. Usahakan untuk membaca “terms and conditions” yang ditampilkan dan renungkan apakah persetujuanmu membawa konsekuensi bagi dirimu sendiri dan sekitar.

Kedua, kita harus menyadari bahwa perilakunya di dunia digital akan memberi “makan” terhadap perusahaan teknologi. Jadi berhati-hatilah dalam menekan tombol like, share, atau komentar agar referensi pilihan hidup kita tidak terbaca perusahaan teknologi. Kalau perlu, kita mungkin harus mulai melirik layanan yang membuat kita tidak terdeteksi saat terhubung ke dunia maya.

Terakhir, ubah kebiasaan dari fanatik mengakses dunia maya menjadi habiskan waktu untuk keluarga dan diri sendiri. Prinsip utama dari kehidupan dunia maya adalah membuat orang secandu dan selama mungkin mengakses dunia maya. Jadi, untuk mengurangi candu itu perbanyaklah waktu untuk ruang personal.

Tidak ada yang lebih kuat dibanding pilihan konsumer. Kitalah yang membangun zaman digital. Facebook, Google, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya tumbuh dan berkembang gara-gara kita sebagai konsumer. Namun, kita juga bisa mencoba untuk mengurangi itu. Kita bisa membuat zaman digital berkembang ke arah yang kita inginkan. Ke arah yang kita tidak harus mengorbankan demokrasi, sosial, maupun kebebasan individu kita. (sbg/Erny)

Comments