Covid-19
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Sejak Virus Corona alias Covid-19 merebak, membuat puluhan juta masyarakat di berbagai belahan dunia, terpaksa bekerja dari rumah.

Ratusan Perusahaan yang bergerak di bidang teknologi, seperti Google, Twitter ataupun bank investasi JPMorgan juga menjadi perusahaan yang dilaporkan tengah menguji kebijakan bekerja dari luar kantor sebagai salah satu bentuk pencegahan penyebaran virus Corona.

Penyebaran Virus Covid-19 membuat kebijakan bekerja dari rumah semakin lumrah terjadi di dunia kerja.

Namun di Indonesia kebijakan bekerja dari rumah hingga ini belum dilakukan perusahaan swasta maupun instansi pemerintahan. Semua pihak masih menunggu perkembangandari merebaknya Covid-19.

BACA JUGA: Rasa Panik Cuma Bikin Rugi Diri Sendiri 

Opsi Tetap Bekerja Meski dari Rumah

Menurut pandangan Joe Hirsh seorang pakar kepemimpinan dan komunikasi, mengatakan wabah virus corona berpotensi  membuat para pekerja kantoran untuk bekerja dari rumah, menjadi suatu hal lebih umum dilakukan dan dapat diterima banyak pihak.

Menurutnya, jika lebih banyak perusahaan mengikuti jejak Twitter dan Google, bisa mengubah dinamika tentang orang bekerja di rumah.

Hadirnya teknologi digital memudahkan proses bekerja. “Adanya virus corona ini sedikit banyak juga membuka mata pentingnya digitalisasi suatu perusahaan untuk memungkinkan karyawan bekerja di rumah.

Di Masa mendatang, bekerja di rumah perlahan-lahan dapat menjadi lifestyle baru. Merebaknya penyebaran Covid-19 ini dan perusahaan perusahaan besar menerapkan kerja di rumah ini menjadi lebih cepat dilakukan.

BACA JUGA: Corona Merebak, Waspada Menggunakan Transportasi Umum 

Tak Punya Opsi Bekerja dari Rumah

Lantas, bagaimana bagi pekerja yang tidak memiliki opsi untuk bekerja di rumah karena keadaan dan jabatannya?

Yup, pekerja migran Indonesia merupakan kelompok yang paling rentan dalam wabah virus Covid-19 , mereka bagian dari masyarakat Indonesia yang terdepan bekerja secara aktif dan bersama-sama menghadapi virus korona dengan semangat solidaritas.

Penelitian dari jurnal medis Lancet Psychiatry menyebutkan, 95 persen dari 150 juta pekerja migran berada di daerah dengan kasus-kasus penyakit Covid-19.

Selain itu, kesehatan pekerja migran juga dinilai terabaikan oleh negara-negara tuan rumah dan kota-kota, seperti Hongkong dan Macau, selama epidemi virus corona.

Para peneliti mengatakan pekerja rumah tangga tersebut menjadi sangat rentan dan kesehatan mental mereka dapat memburuk di tengah wabah virus corona.

BACA JUGA: Rutin Bersihkan Smartphone Cegah Penyebaran Virus Corona 

Akses Akses Kesehatan Pekerja migran

Salah satu peneliti yang ambil bagian dalam penelitian itu adalah Brian J. Hall, direktur Global dan Komunitas Mental Health Research dari Universitas Makau.

Menurutnya, dibandingkan dengan pelajar asing, pekerja migran menghadapi lebih banyak hambatan dalam mengakses layanan kesehatan. “Seperti asuransi kesehatan yang tidak memadai,” tuturnya

Dalam makalah yang diterbitkan pada 18 Februari itu disebutkan ada 400.000 pekerja rumah tangga asing di Hong Kong, sementara di Makau ada 28.600.

Penelitian itu menyebutkan, dalam kondisi normal, pekerja migran memiliki beban gangguan mental seperti depresi dan kualitas hidup yang lebih rendah.

Situasi mewabahnya Covid-19 menyebabkan beberapa pekerja rumah tangga seperti di Hong Kong dan Makau telah kehilangan pekerjaan sejak wabah dimulai. (Sbg/Rig)

Comments