gunung Agung (Foto BNPB)

Sabigaju.com – Gunung Agung hingga Selasa (28/11) masih terus mengalamai erupsi magmatik. sejumlah perubahan telah terjadi, menyusul adanya letusan dan abu vulkanik masih terus dimuntahkan Gunung Agung, Bali.

Kawah Gunung Agung mengeluarkan asap dengan warna berbeda. Satu sisi menghasilkan asap tebal berwarna putih, dan disisi lainnya mengeluarkan asap pekat berwarna kelabu.

Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengamati lava sudah mulai menyembur dari dalam kawah Gunung Agung. Pantauan tersebut sekitar pukul 20.00 Wita, Senin (27/11/2017).

Bahkan, fenomena itu bisa teramati dari Pos Pantau Gunung Api Agung di Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem. Semburan lava itu seperti halnya air mancur. Lava menyembur dangkal dalam kawah dan sesekali sampai tampak di atas kawah. Namun, lava tersebut belum sampai meluber keluar dari kawah.

Penduduk Diminta Mengungsi

Sedikitnya ada 22 desa yang terdapat dalam zona berbahaya. Sebagian masyarakat ada yang memilih mengunsi di lokasi yang sudah disediakan Selain di Bali, ada juga yang mengungsi ke Lombok.

Namun, hingga kini tidak semua masyarakat yang tinggal di radius berbahaya bersedia mengungsi. Masih banyak masyarakat yang tetap tinggal di dalam rumahnya. Petugas masih terus membujuk masyarakat untuk mengungsi dan membantu pengungsian ternak. Secara umum, penanganan pengungsi berlangsung dengan baik. Tidak ada kepanikan di masyarakat.

Petugas PMI tengah membagikan masker dan evakuasi warga warga disekitar kawasan Pura besakih pada 26 November lalu. (Foto Instagram dedy.rimbawan)

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memperkirakan, ledakan besar dari Gunung Agung akan terjadi tak lama lagi. Perkiraan tersebut menjadi pertimbangan menaikkan status kebahayaan gunung tersebut dari Siaga (level III) ke Awas (level IV).

PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung, pendaki, pengunjung, dan wisatawan untuk tidak berada dan melakukan aktivitas apa pun di zona perkiraan bahaya.

Kondisi Bandara

Terkait aktivitas Gunung Agung, Bandara I Gusti Ngurah Rai , Bali ditutup hingga Rabu 29 November mendatang (Foto Instagram ngurahraiairport)

Erupsi magmatik Gunung Agung yang terus berlangsung, mengharuskan pihak bandara kembali menutup bandara I Gusti Ngurah Rai hingga Rabu (29/11).

Analisa pihak Airnav Indonesia Cabang Denpasar juga menunjukkan bahwa ploting area jalur pemanduan lalu lintas pesawat udara telah tertutup oleh sebaran abu vulkanik.

Maskapai penerbangan Citilink Indonesia membatalkan 36 penerbangan dari dan menuju Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, dan Bandara Lombok Praya, Lombok. Hal ini didasari pertimbangan dan hasil koordinasi perkembangan aktivitas vulkanis Gunung Agung Bali sebelumnya.

Sementara untuk maskapai Garuda membatalkan sebanyak 223 penerbangan terdiri dari 183 penerbangan dari dan menuju Bali, dan 40 penerbangan dari dan menuju Lombok, terkait tebaran abu vulkanik erupsi Gunung Agung pada Minggu (26/11) hingga, Selasa (28/11).

Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia baru akan melayani rute dari dan menuju Bali Lombok setelah sebaran abu vulkanik dari Gunung Agung mereda dan kembali dalam situasi normal.

Letusan Dahsyat Gunung Agung 1963

Letusan Gunung Agung pernah terjadi pada tahun 1963 silam, yang dimulai pada 18 Februari 1963 dan baru berakhir 27 Januari 1964.

Letusan dahsyat ini mencatat 1.148 orang meninggal dunia dan 296 orang luka. Mayoritas korban berjatuhan karena awan panas letusan yang melanda tanah lebih dari 70 kilometer persegi. Letusan Gunung Agung kala itu menjadi letusan terbesar sepanjang abad ke-20.

Pada letusan 1963 diawali gempa bumi ringan yang dirasakan penghuni Kampung Yeh Kori. Sehari kemudian, terasa kembali gempa bumi di Kampung Kubu, di pantai timur laut kaki Gunung Agung, sekitar 11 kilometer dari lubang kepundannya.

Letusan pun semakin dahsyat. Gunung Agung bergemuruh dan melemparkan bola api. Wilayah Pura Besakih, Rendang, dan Selat dihujani batu-batu kecil dan tajam, pasir, dan hujan abu pada 23 Februari 1963. Hujan lumpur lebat turun di Besakih sehari kemudian, mengakibatkan bangunan-bangunan di sana roboh. Awan panas dah hujan lahar muncul.

Tanggal 17 Maret 1963 merupakan puncak dari kegentingan tersebut. Suara letusan berkurang dan hilang. Sisanya adalah aliran lahar ke wilayah-wilayah di bawahnya. Letusan Gunung Agung baru berhenti 27 Januari 1964. (Sbg/Rig)

Comments