Telecommuting
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Salah satu Budaya urban yang kini menjadi tren dengan segala keriuhannya adalah orang-orang yang menjalankan telecommuting dalam pekerjaannya.

Banyak perusahaan besar yang memberlakukan telecommuting kepada karyawann dengan membebaskan karyawannya datang dan pulang kapan saja, asalkan pekerjaan mereka beres sesuai tenggat waktu.

Saat ini, telecommuting menjadi tren, di mana seseorang tidak harus bekerja di kantor, karena kemajuan teknologi sudah sangat mendukung untuk menyelesaikan pekerjaannya di mana pun.

Kebanyakan telecommuter memilih bekerja dari rumah, sementara sebagian lainnya memilih berpindah-pindah tempat alias nomaden. Seorang telecommuter tidaklah harus seorang pebisnis. Karyawan atau pegawai biasa pun bisa melakukannya.

BACA JUGA: Sederet Keuntungan Keren Lewat Bekerja dari Rumah 

Gaya Hidup Telecommuting di Indonesia

Gaya hidup telecommuting memang sedang mewabah di seluruh dunia, Negara-negara berkembang juga mulai mengikuti tren ini, termasuk Indonesia.

Yup, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)‎/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) saat ini tengah menggodok skema kerja Pegawai Negeri Sipil tak wajib ngantor.

Ada sekitar 1.000 PNS yang nantinya akan bekerja secara mobile alias mengerjakan tugas di rumah masing-masing.

BACA JUGA:

Bekerja secara telecommuting seringkali menjadi pilihan dengan alasan efisiensi.

Ya, kemacetan di jalan terkadang banyak menghabiskan waktu dan biaya.serta menguras fisik Seperti yang dialami oleh  banyak pekerja  terlebih yang berdomisili di kota metropolis seperti Jakarta.

Selain waktunya yang fleksibel, secara finansial juga lebih baik karena banyak ongkos yang dipangkas, sehingga penghasilan pun otomatis lebih banyak.

Soal Kendala Tatap Muka

Meski bekerja secara  telecommuting tentunya  diuntungkan dengan kecanggihan teknologi yang mempermudah pekerjaan. Namun dalam menerapkan telecommuting bukan berarti tidak menghadapi kendala. Salah satu kendala yang terkait komunikasi.

Sebab terkadang bisa terjadi miskomunikasi. itulah sebabnya, koordinasi secara tatap muka masih diperlukan.

Untuk bertatap muka, baik dengan tim maupun dengan klien, dapat dilakukan dengan berbagai cara.

BACA JUGA: Bekerja dari Rumah dan Dampaknya pada Kesehatan Mental 

Beberapa telecommuter memilih rumah sebagai kantornya dengan menyediakan perlengkapan kantor, seperti faksimili dan komputer, untuk para staf keuangan dan administrasi yang stand by di rumahnya.

Semua urusan pekerjaan dapat dilakukannya di rumah, kecuali saat harus bertemu klien di tempat yang disepakati.

Telecommuting benar-benar memangkas cost, baik dari segi tempat karena saya tidak perlu menyewa kantor, juga menghemat biaya untuk sumber daya manusia. (Sbg/Rig)

Comments