Pergi ke Kantor mengenakan masker
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berskala besar di Jakarta tidak sepenuhnya membuat warga Ibu Kota mengisolasi diri ataupun  menerapkan jaga jarak fisik. Kebijakan yang dibuat untuk memutus mata rantai Covid-19 itu nyatanya banyak dilanggar.

Pemberlakuan PSBB yang mengharuskan kita untuk jaga jarak, seakan menjadi tak berarti karena banyak warga yang tidak patuh.

Padahal   menjaga jarak fisik dari orang lain bisa mencegah virus menyebar atau menggunakan diri kamu sebagai pembawa penyakit dan membuatnya menular ke lebih banyak orang.

Namun, bagaimana jika kita menjumpai orang yang tidak mengindahkan aturan jaga jarak fisik. Misalnya tidak menutup mulut ketika batuk atau berdiri terlalu rapat ketika mengantri di kasir. Apakah kita harus menegurnya atau malah membiarkan?

BACA JUGA: Pakai Masker Bukan Berarti Bebas Jaga Jarak 

Etika dan Ketegasan

Menurut pakar etika medis Arthur Caplan, kita tidak harus menjadi orang yang menjengkelkan, tapi kita berhak untuk memberitahu bagaimana yang benar.

“Sampai saat ini kita belum punya obat atau vaksin. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengubah perilaku dan ada bukti ilmiah bahwa hal menjaga jarak itu efektif dan disiplin menjalaninya,” kata Caplan.

Dalam mengubah pola pikir atau perilaku seseorang, mempermalukan atau menyalahkan biasanya tidak efektif dibanding dengan bersikap empati.

“Di masa pandemi seperti sekarang setiap orang stres dan takut akan kesehatan mereka sendiri. Kita harus sensitif dengan kemampuan orang lain,” kata pakar bidang hukum kesehatan Aziza Ahmed.

BACA JUGA: Akankah Kebiasaan Berjabat Tangan Bakal Hilang Selamanya?

Gunakan Empati

Jika ada orang yang terlihat tidak menuruti perintah untuk diam di rumah, mungkin karena orang tersebut adalah pekerja harian yang jika tidak bekerja maka tidak punya uang.

Menurut ahli antropologi medis Monica Schoch-Spana, kita berhak untuk melindungi diri sendiri jika ada orang lain menginvasi ruang personal kita.

Salah satu taktik untuk menegur orang lain adalah menggunakan pendekatan “bukan kamu, tetapi saya”. Misalnya saja, ketika berada di toko swalayan dan ada orang yang berdiri terlalu dekat di belakang kita jangan langsung berteriak menyuruhnya mundur.

Sebaliknya, beritahu bahwa setiap orang bisa sudah terinfeksi virus tapi tidak menyadarinya. Jadi, sebaiknya tetap jaga jarak.

“Masuk akal jika kita protes ketika ada orang membahayakan kesehatan dan kesejahteraan kita. Kita berhak untuk mencoba dan memperbaiki perilaku itu, tetapi lakukan dengan sopan, dengan membagi informasi dan memberi contoh positif,” tutupnya. (Sbg/Rig)

Comments