Kepada para Ibu di luar sana,

Apa kabar? Pasti jawabanmu ‘baik, tapi lelah’ atau ‘lelah, tapi menyenangkan’ atau jawaban lainnya yang biasa kamu jawab ke teman atau saudaramu. Peran para ibu memang yang terberat dari peran apapun di dunia ini.

Mari kita lihat dari pola tidurmu. Kapan terakhir kali kamu tidur nyenyak semalam penuh? Nah, kau memutar matamu, mengernyitkan kening, atau bahkan melotot mendengar kata ‘tidur nyenyak’. Bagi para ibu, tentunya tidur bukan teman baikmu, bahkan jadi begitu asing.

Masih ingat hari pertama anakmu belajar hal baru dan kamu bangga atasnya? Ya, saat dia pertama merangkak lumayan cepat dan kamu harus segera menangkapnya sebelum jatuh dari kasur. Atau ingat saat pertama kali ia mengucapkan kata pertamanya? Mama? Dada? Apa? Ah, apapun itu pasti suatu hal yang begitu berharga buatmu. Tidak harus selalu kamu sambut dengan tangis haru, tapi di balik keringat lelahmu ada rasa bangga. Pasti.

Pernahkah kamu menyempatkan melirik kaca setelah mandi pagi? Lalu kamu sadari kantong matamu semakin hitam. Mungkin saat kamu maju sedikit memperhatikan wajahmu, bahkan mulai ada kerutan tipis! Apa yang kamu rasakan saat melihatnya? Atau lebih terasa sakit punggung dan pinggang setelah semalam penuh menggendong si kesayangan karena sedang fase growthspurt? Dirimu jadi tidak begitu penting lagi. Penampilanmu bukan jadi yang utama lagi. Bahkan otot dan tulangmu yang lelah sering terlupakan haknya untuk beristirahat. Kamu mungkin segera berpakaian dan menyiapkan kehidupan berikutnya; makanannya, mainannya, pakaiannya, dan permainan apalagi untuk mendidiknya. Lalu terlewat lagi hasratmu memanjakan dirimu sendiri, yang penting anakmu.

Ibu, akan ada hari dimana kamu akan tidur sampai lebih jam 8 pagi. Hari itu adalah hari di saat kamu akan tidur sedang anakmu membuat sarapannya sendiri. Suatu hari kamu akan duduk sendiri di kursi kesayanganmu, entah membaca buku atau menonton serial kesukaanmu. Suatu hari kamu akan kehilangan tangis tengah malam, kamu rindu memeluk tubuh kecil yang menggemaskan. Kamu akan rindu dibutuhkan. Ada hari itu dimana kamu ingin memilihkan baju untuknya main, atau saat kamu membayar mainannya di kasir sebelum pulang. Hari itu dimana ia membeli semua yang ia inginkan sendiri, bahkan sesekali mengajakmu dan mentraktirmu makan di restoran baru. Akan tiba harinya kamu berhenti menyebutkan namanya kepada orang asing yang mencubit gemas pipinya. Mungkin itu hari dimana ia akan menyebutkan nama orang lain kepadamu; temannya, bosnya, pacarnya.

Ibu, mulai hari ini, berhenti atau kurangilah mengasihani diri sendiri. Yang kamu lakukan adalah hal luar biasa dan tidak tergantikan. Tuanglah lagi secangkir kopi untukmu sendiri. Lupakan pandangan dan ucapan orang lain tentangmu sebagai ibu yang selalu akan ada salahnya. Tersenyumlah dan nikmatilah peran luar biasamu sebagai seorang ibu. Yakinlah semua lelah dan kantuk akan terlewat dan tergantikan dengan kepuasan batin, yang lagi-lagi orang lain takkan tahu.

Salam salut selalu dari:

Sesama Ibu Pejuang yang Lelah tapi Senang
Comments