Copyright: Peter Alessandria (Instagram @peteralessandria)

Sabigaju.com – Supermoon, blue moon dan blood moon atau disingkat sebagai super blue blood moon yang terjadi secara bersamaan pada 31 Januari 2018 menjadi penutup bulan yang luar biasa. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyatakan bahwa fenomena yang terjadi tadi malam merupakan kejadian langka. Pasalnya, terakhir kali terjadinya fenomena supermoon, blue moon dan blood moon secara bersamaan adalah 152 tahun yang lalu.

Gerhana Bulan dan Mitos Jawa kuno

Hampir setiap fenomena alam tak pernah terlepas dari adanya mitos. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia pun antusias menyambutnya, termasuk di Indonesia. Selain mengabadikan dengan foto ataupun video, ada pula masyarakat yang masih menjalankan mitos kuno seputar gerhana. Seperti yang dilakukan warga kampung Cempluk, Malang, contohnya.

Dilansir dari Liputan6.com, warga kampung Cempluk melakukan tradisi kothekan—istilah Jawa untuk memukul tetabuhan—saat terjadi gerhana tadi malam. Tradisi yang telah dilakukan selama ratusan tahun ini terjadi berdasarkan adanya mitos tentang Batara Kala, raksasa jahat yang memakan bulan atau matahari hingga menyebabkan gerhana. Bunyi-bunyi dari kothekan ini dimaksudkan untuk menciptakan suara gaduh, yang dipercaya dapat mengusir raksasa penelan bulan atau matahari tersebut.

Selain itu, ada juga mitos yang menyebutkan kalau gerhana bulan bisa menyebabkan kecacatan bagi jabang bayi dalam kandungan ibu hamil. Karenanya, saat gerhana bulan terjadi ibu hamil diminta untuk bersembunyi, bahkan sampai ke kolong tempat tidur. Sebagian warga di Gunungkidul masih melakukannya, dilansir Sabigaju dari Tribunnews pada Kamis (1/2/18).

Berlomba-lomba Mengabadikan Super Blue Blood Moon

super blood moon
Copyright: Neon (Instagram @neonminkyaw)

Super blue blood moon semalam terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. Bagaimanapun caranya, banyak orang yang berusaha untuk turut menjadi saksi fenomena langka tersebut. Di Jakarta sendiri, banyak ruang publik yang jadi titik perkumpulan masyarakat sekitar untuk menyaksikan gerhana bulan, di antaranya kawasan Monas dan Kota Tua. Beruntungnya cuaca Jakarta sedang cerah tadi malam sehingga fase-fase perubahan bulan tampak cukup jelas.

Kamu sendiri, menyaksikan super blue blood moon dari mana tadi malam? Bagi yang belum menyaksikan, jangan khawatir. Kamu masih bisa lihat super blue blood moon tadi malam dari foto-foto dan video yang bertebaran di media sosial. Tiap daerah memang menampilkan penampakan bulan yang berbeda, kalau favoritmu, foto yang mana?

Comments