Bumi kembali mengucapkan selamat tinggal pada penghuninya yang nyaris punah, badak putih jantan terakhir di dunia bernama Sudan.

Ya, Sudan di sini bukan nama dari sebuah negara Timur Tengah, tapi seekor badak putih jantan terakhir di dunia.

Badak putih berjenis kelamin jantan terakhir di dunia ini akhirnya mati dengan tragis. Tragis karena dia adalah satu-satunya badak putih jantan di dunia yang masih tersisa. Usai kematiannya, badak putih bisa nyaris dikatakan punah.

Menurut data yang dihimpun, Sudan berusia genap 45 tahun. Dua badak putih lainnya hanya tersisa dua ekor, itupun berjenis kelamin betina. Sudan mati tanpa memberi kesempatan badak putih lainnya untuk melestarikan spesies serupa.

Sudan Sayang, Sudan Malang

Matinya Sudan tentu membuat warga dunia yang mencintainya berputus asa. Bagaimana tidak, sejumlah ahli telah berusaha untuk melestarikan jenis badak putih lewat Sudan dan dua badak putih betina lainnya. Namun kabarnya, tim konservasi berhasil mengambil sampel genetik Sudan untuk dilakukan inseminasi buatan kepada dua betina tersebut.

Sudan disuntik mati oleh tim yang bekerja karena sudah lama sakit dan menderita di Kenya. Ia menderita komplikasi terkait usia yang menyebabkan pperubahan degeneratif pada otot dan tulang. Kulitnya juga mengalami luka yang meluas. Dalam 24 jam, Sudan tak dapat berdiri dengan tegak.

Selama hidupnya, Sudan bak hewan istimewa karena ia dijaga ketat oleh militer bersenjata. Tentu ini dilakukan demi menyelamatkan subspesies badak putih di planet ini. Cula Sudan juga terpaksa dipotong agar ia tak diincar oleh pemburu satwa liar. Dengan begitu, Sudan bisa dikatakan aman.

Kini setelah Sudan tiada, yang tersisa adalah Najin dan Fatu, dua badak betina yang merupakan keturunannya sendiri.

Nyaris Punah karena Perdagangan Tanduk

Upaya pelestarian badak Afrika memang nyaris sia-sia karena perbuatan pemburu satwa yan liar. Mereka sengaja memburu badak demi diambil tanduknya dan dimanfaatkan sebagai perhiasan. Tanduk tersebut juga dijual sebagai obat tradisional di Vietnam dan Cina.

Kematian Sudan mengingatkan kita bahwa tangan manusia tak hanya bisa merusak rumah penghuni bumi lainnya, tapi juga merusak rumahnya sendiri.

Selamat tinggal, Sudan. (sbg/Dinda)

Comments