Toleransi melahirkan kekompan dan persatuan
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Pas banget di Hari Pancasila ini, kita akan kembali membahas toleransi. Ini mungkin bukan kali pertama bagi kamu membaca soal toleransi. Tapi karena saking pentingnya, kamu enggak bisa dong merasa bosan tentang pembahasan ini.

Kenapa penting? Coba bayangin, pembahasan soal toleransi udah banyak, tapi hingga kini masih aja orang berlaku tidak adil pada orang yang menurut mereka bukan golongannya.

Sebut saja kasus yang baru-baru ini lagi heboh banget di Amerika Serikat. Apalagi kalau bukan soal George Floyd yang dibunuh oleh polisi Amerika. Pasalnya, pria berkulit hitam itu dibunuh setelah memalsukan uang sebanyak 20 dolar AS.

George ditangkap polisi sesaat setelah dilaporkan. Kemudian lehernya diinjak dengan lutut sang polisi. Walau sudah memohon karena tak bisa bernapas, polisi itu tak bergeming. Bahkan ketika napasnya sudah berhenti, polisi masih menginjak lehernya.

Amerika Serikat saat ini masih rusuh karena demonstrasi di mana-mana. Ribuan warganya meneriakkan keadilan karena bukan kali pertama orang berkulit hitam dianiaya hingga mati sebelum masuk ke meja pengadilan.

Isu rasialisme memang masih sangat kental di sana. Tapi apakah hanya di Amerika Serikat? Enggak, di negara tercinta kita pun sama.

BACA JUGA: Yuk Ajari Anak Toleransi Mulai dari Sekarang! 

Toleransi sebagai gaya hidup

Isu toleransi juga tak pernah habis dibahas di Indonesia. Ini karena Indonesia dikodratkan jadi negara dengan ribuan etnis, suku dan puluhan agama (walau yang tercatat secara resmi hanya beberapa agama).

Itu sebabnya para pahlawan dulu menyelipkan Persatuan Indonesia sebagai salah satu sila. Apa maknanya?

Mereka ingin kita tetap bersatu di golongan manapun kita berada. Mereka paham, bahwa Indonesia memang sudah terbagi dan akan terus terbagi. Tapi, bukankah kemerdekaan juga dicapai karena para pendahulu kita bersatu untuk mencapainya?

BACA JUGA: Sentimen Rasisme Saat Merebaknya Virus Corona, Ironis

Menjadikan Tolerasi Sebagai Gaya Hidup?

Layaknya kita menjalani hidup sehat, berpenampilan dan menjalin relasi, toleransi bisa dimulai dari ini semua. Misalnya saja ketika belajar menerapkan toleransi dalam memilih pasangan atau tidak berselisih dengan mereka yang berbeda keyakinan atau pendapat.

Kita perlu membuka pikiran kita. Tak sepaham bukan berarti berselisih. Begitu juga menerima bukan berarti juga tanda sepakat. Tapi dengan menoleransi pada apa yang tidak sejalan sekalipun, kita justru memiliki banyak insight dalam menjalani suatu kehidupan, kan?

Kita punya gaya hidup tertentu, tentu saja demi keinginan hidup yang lebih baik. Jika kita menerapkan toleransi sebagai gaya hidup, bukan hanya untuk kebaikan hidup sendiri, tapi juga bersama.

BACA JUGA: Persekusi Bukan Karakter Asli Orang Indonesia

Nah, toleransi dalam hal sekecil apapun, akan terasa membahagiakan Sob. Bayangkan kita bisa memberi ruang pada orang lain untuk menjalani kehidupannya sendiri, dan orang lain melakukan hal yang serupa pada kita.

Terus gimana dong, kalau mereka salah? Masa kita enggak boleh ngasih tau mereka?

Tentu aja boleh, dong. Hanya saja kita perlu memerhatikan cara mengkomunikasikannya. Yang salah bagi kita, belum tentu bagi mereka.

Jangan sampai kita tampak menggurui, memaksa dan menyinggung. Jika mereka punya asumsi kebenaran sendiri, kalian bisa mendiskusikannya. Jika tak tampak jalan tengah dan solusinya? Ya, artinya toleransi dibutuhkan.

Sudah saatnya kita berlaku adil dan menjunjung toleransi ,  yang dimulai dari dalam pikiran. (Sbg/Dinda)

Comments