Meraa Kesepian
(Sumber Foto: Yahoo/Photo credit: Chad Springer

Sabigaju.com – Meski salah satu Alasan utama seseorang mencari pasangan adalah supaya tidak kesepian, Sayangnya, cukup banyak orang yang sebenarnya merasa kesepian dalam hubungannya atau pernikahannya.

Yup, banyak orang yang memiliki pendamping hidup tapi seperti berjalan sendiri. Kesepian justru bisa dialami saat orang sudah berpasangan,

Gaes, merasa kesepian meski sudah berpasangan ini bukanlah sesuatu yang bisa kamu pandang enteng. Hal Ini punya dampak yang besar terhadap kesehatan.

BACA JUGA: Mengerikan! Dampak Kesepian Bisa Membawamu ke Jalan Kematian

Kesepian dan Ancaman Potensi Kematian

Menurut Dr. Julianne Holt-Lunstad, Profesor Psikologi dan Neurosains dari Brigham Young University, dan Dr. Nancy Donovan, psikiatri dari Brigham and Women’s Hospital—spesialis geriatrik dan neurologi ada dua tipe kesepian, yakni subyektif dan obyektif.

Kesepian obyektif artinya secara fisik orang tersebut sendirian atau terisolasi secara sosial.  Sementara kesepian subyektif adalah kesepian secara emosional dan perasaan meskipun secara fisik orang tersebut tidak benar-benar sendiri.

“Ada ketidaksesuaian antara keinginan pribadi dan level hubungan sosial yang terjadi,” kata Holt-Lunstad dilansir Sabigaju  dari laman The Insider.

Merasa kesepian
(Sumber Foto: medicalnewstoday.com)

Nah, baik kesepian obyektif maupun subyektif: punya resiko mendatangkan  kematian

Hold-Lunstad memublikasikan dua studi besar yang membentuk efek keseluruhan kesepian sebagai faktor risiko kematian dini atau kematian terjadi sebelum rata-rata usia kematian pada populasi tertentu.

Studi pertama mempelajari tingkat hubungan sosial dan indikator sosial lainnya, seperti ukuran jejaring sosial dan dukungan sosial sebagai salah satu faktor risiko kematian.

Studi tersebut melibatkan 300.000 partisipan. Hasilnya, mereka yang memperoleh nilai rendah dari indikator-indikator hubungan sosial tersebut memiliki risiko kematian yang sama dengan merokok 15 batang setiap hari

Sementara partisipan dengan hubungan sosial yang lebih kuat memiliki kemungkinan bertahan hidup 50 persen lebih lama.

Adapun studi lainnya melibatkan 3,4 juta partisipan, dan fokus pada kesepian subyektif dan isolasi sosial fisik. Hold-Lunstad menemukan, kedua faktor bisa meningkatkan risiko kematian dini. Menurut dia, risiko tersebut melebihi risiko obesitas, ketidaktifan fisik, dan polusi udara.

BACA JUGA: Jangan Salah! Kerap Berpenampilan Mewah Ciri Orang yang Kesepian 

Mengatasi Potensi Kesepian dalam Pernikahan

Merasa kesepian meski sudah berpasangan adalah hal yang menyeramkan. Kita akan merasa tidak didengar, tidak dilihat, atau tidak dicintai. Kita mungkin merasa pendapat, mimpi, dan pengalaman kita tak berarti bagi pasangan.

Namun kondisi merasa kesepian meski sudah berpasangan  itu bukannya mustahil untuk diubah.. Berikut beberapa langkah yang bisa kamu lakukan:

Evaluasi

Evaluasi lagi harapan kita dan tindakan yang sudah dilakukan. Kita bertanggung jawab pada emosi yang kita rasakan dan bukan selalu menyalahkan pasangan untuk setiap hal yang terasa tidak benar di dunia ini.

“Perasaan cinta yang menggebu dan kebahagiaan tidak akan selalu ada setiap hari. Bahkan pada pasangan yang penuh cinta pun akan muncul ketidaksepahaman. Akan ada waktu untuk berjarak dan kembali lagi bersama dengan lebih bahagia,” katanya.

Pahami pula bahwa kesepian yang dirasakan bisa juga merupakan gejala depresi atau kita memang punya faktor genetik. Ketahui dengan cara melihat polanya dari hubungan-hubungan kita terdahulu.

BACA JUGA: Cara Menjadi Sosok yang Tidak Mudah Diterka Oleh Pasangan 

Apakah tetap merasa kesepian meski pasangan selalu menunjukkan cintanya? Jika iya, mungkin rasa kesepian itu terkait genetic atau ada depresi yang tidak disadari.

Terbuka dengan Pasangan

Bersikaplah terbuka dan biarkan ia mengetahui apa yang kita rasakan dan butuhkan, tanpa menyalahkan. Ini merupakan kunci untuk komunikasi yang produktif.

Cobalah bicarakan untuk mencari perubahan yang bersifat positif, seperti lebih sering mengungkapkan rasa terima kasih dan rasa cinta.

Jika kondisi dan perasaan itu tidak juga berubah, jangan ragu meminta bantuan profesional seperti mengikuti konseling pernikahan. (Sbg/Rig)

Comments