Sabigaju.com – Sejak kehadirannya di era tahun 80-an, music hardcore terus berkembang bahkan hingga kini. Hardcore tak lagi sekedar genre musik tapi masuk dan menjadi way of life hingga gaya hidup.

Tengok saja apa yang dilakukan Ian MacKaye pentolan Minor Threat, generasi awal Hardcore. Dengan gagah MacKaye menelurkan gerakan “Straight Edge”, sebagai upaya bentuk penentangan atas kultur anak muda di zaman itu, yang gemar mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang.

MacKaye bahkan menuliskan gagasannya lewat Lagu dan ideologi “Straight Edge” yang bisa dibilang cetak biru dalam budaya hardcore.

Penggalan lirik “i’m people just like you / but I’ve got better things to do,” hingga kini jadi alasan tegas bagi Hardcore-Kids di belahan dunia manapun untuk hidup bersih

Tak hanya itu, beberapa band hardcore malah menjadikan karyanya sebagai media untuk ‘bersuara’ . Sebut saja Dead Kennedys. Band ini asal San Fransisco ini, sering menyisipkan muatan-muatan politis bernada satir, lewat lirik dan konsep unik saat dipanggung.

Band ini pernah bikin geger publik saat salah satu cover single mereka Holiday in Cambodia” , mereka mengambil foto korban The Thammasat University Massacre, sebagai bentuk kritik atas kekejaman rezim negara timur dan campur tangan negara barat dalam urusan internasional.

Nah, kamu tahu nggak sih kalau hardcore ternyata.punya pengaruh besar dalam urusan fesyen moderen meski tak banyak anak hardcore yang mau membahasnya.

BACA JUGA: Konser Di Kursi Aja No Moshing, Pogo or Stage Diving, Mau? 

Rambut

Kebanyakan pengemar hardcore hardcore punk memiliki rambut pendek ataupun plontos. Mereka umumnya tidak punya cukup waktu untuk memperhatikan hal-hal seperti mewarnai rambut

(Foto: Instagram.com/agnosticfrontnyc)

 

Namun ada juga beberapa penganutnya yang memilih model dreadlock seperti Keith Morris dari Circle Jerks ataupun Paul D. Hudson alias HR pentolan Bad Brains.

Namun, hal ini jarang dilakukan dan biasanya melambangkan signifikansi budaya dari suatu wilayah tertentu.

Kaos Oblong dan Kemeja

Penggemar musik hardcore umumnya mengenakan kaus oblong . Umumnya mereka menyukai kaos oblong bermotif band, kaos polos  ataupun kaos streetwear yang bersentuhan dengan dunia skateboards seperti vision street wear ataupun Vans.

(Foto: Ken Salerno)

Namun tak sedikit juga yang kerap menggunakan kemeja ataupun flanel saat berkumpul ataupun hangout hingga manggung.

Umumnya para penggemar musik hardcore tidak membeli kaus kaus branded mahal yang di jual di toko-toko branded ataupun mal.

Mereka lebih memilih untuk membeli kaus di acara pertunjukan yang mereka hadiri, langsung dari bandnya.

Bagi para penggemar hardcore, uang yang mereka keluarkan untuk membeli kaos, akan langsung masuk ke kas band yang mereka dukung . Dengan begitu mereka membantu pengidupan para personil band tersebut.

BACA JUGA: Gaya Hoodie Keren ala Cowok Jakarta yang, Nomor 3 Bikin Mirip Yeezy

Hoodie  dan Crewneck

(Foto; doyouknowhardcore.com)

Para hardcore kid lebih menggunakan hoodie dan crewneck ketimbang jaket. dan salah satu merek hoodie atau crew neck yang paling digemari di kalangan pecinta hardcore adalah merek Champion.

Celana

Style Hardcore
(Foto: Instagram.com/madball)

Umumnya para penggemar genre imusik ini doyan banget mengenakan celana pendek sport cargo pants, hingga military shorts. Namun tak sedikit juga yang memilih baggy jeans.

Style berpakaian ini dipilih lantaran mereka mengutamakan kemudahangerak penggunaya terlebih saat menghadiri pertunjukan musik  untuk melakukan gerakan moshing hingga stage diving.

BACA JUGA: Punk Rock, Bikin Manusia Jadi Enerjik dan Lebih Tenang

Sneakers

Di era Youth crew (1986-1991) sneakers Nike High menjadi andalan para penggemar hardcore saat mendatangi klub-klub malam guna menyaksikan penampilan band band seperti Youth of Today, Bold dan Project X.

Selain Nike, sneakers sneakers besutan New Balance juga  banyak diadopsi di scene hadcore  di Amerika Serikat Terlebih banyak yang menganut gaya hidup straight edge,

New Balance digemari para penganut straight edge lantaran dianggap asalah satu dari sedikit merek  yang tidak mengandung produk hewani.

Menyusul Kemudian Vans  yang belakangan  menjadi  bagian dari seragam tidak resmi anak-anak hardcore punk di seantero AS.

Mulai dari Ian MacKaye dari Minor Threat yang kerap mengenakannya saat manggung ataupun  Henry Rollins berpasangan dengan Vans ketika ia memainkan pertunjukan pertamanya bersama Black Flag pada 1981.

Hardcore bukan fesyen, tapi punya pengaruh besar bagi dunia fesyen moderen. (Sbg/Rig)

Comments