Foto: Global Look Press / Stephen Chung

Sabigaju.com – Ada hal miris di balik merebaknya penyebaran virus corona. Yup, Kecenderungan rasisme mulai terjadi di sejumlah negara pada etnis Tionghoa atau warga Cina setelah wabah infeksi virus corona merebak sebulan terakhir ini.

Kini, masyarakat China atau Asia diidentikkan dengan pembawa virus dan potensial untuk menularkannya pada bangsa lain.

Sentimen rasis terhadap warga keturunan Tionghoa sudah dilaporkan terjadi di beberapa negara, seperti Malaysia, Vietnam, Jepang, Prancis dan Kanada.

BACA JUGA: Perilaku Rasis Terhadap Papua Harus Dihentikan

Virus Corona dan Hal Lain Picu Rasisme Terhadap Cina

Sentimen rasis yang kini merebak terhadap etnis cina terjadi lantaran merebaknya Wabah virus yang dimulai di kota Wuhan di Cina .

Wabah ini telah menewaskan 213 orang di China dan memicu gelombang pembatasan perjalanan dan upaya lain untuk menghentikan penyebaran, baik di dalam China sendiri maupun di luar negeri.

Lantaran itu masyarakat China dianggap sebagai pembawa virus corona dan potensial untuk menularkannya kepada bangsa lain. Ironis dan pola pikir sempit  bukan?

Sebenarnya sentimen anti-Cina juga telah berkembang beberapa waktu yang lalu. Pengaruh Beijing terhadap kondisi global dan peningkatan perselisihan perdagangan, politik dan diplomatik dengan banyak negara menjadi alasannya.

BACA JUGA: Yuk Ajari Anak Toleransi Mulai dari Sekarang! 

Rasisme, Penyakit Mental?

Rasisme bukan barang baru dalam kehidupan. Rasisme justru merupakan basis awal keangkuhan yang terjadi dalam kehidupan ini.

Alvin Poussaint adalah seorang profesor psikiatri di Harvard Medical School bersama beberapa psikiater lainnya, pernah mengusulkan kepada American Psychological Association (APA) bahwa rasisme ekstrem tidak hanya persoalan budaya dan sosial.

Mereka menilai  perilaku rasis yang ekstrem termasuk dalam penyakit jiwa dan meminta agar rasisme ekstrem dimasukkan ke dalam Manual of Mental Disorder (DSM) – pedoman dokter untuk diagnosis pasien – sebagai “gangguan delusional”.

Namun permintaan tersebut ditolak. “Mereka merasa bahwa rasisme sudah tertanam dalam budaya, sampai hampir normatif, sehingga Anda harus menghadapi semua faktor budaya yang mengarah pada perilaku ini,” kata Poussaint seperti dilansir dari Newsweek.

Menurut Poussaint, jika rasisme ekstrem masuk dimasukkan ke dalam DSM, hal itu justru akan menguntungkan masyarakat

Anggota masyarakat yang menderita rasisme ekstrem akan bisa mengakses layanan seperti konseling dengan psikiater, dan masyarakat yang berpotensi menjadi korban akan terlindungi.

Poussaint menilai, perilaku rasis ekstrem merupakan bentuk paranoia. Dengan terapi, dia berupaya untuk membantu “pasien” mengetahui asal mula superioritas yang dipercayai.

BACA JUGA: Pelajaran Penting dari Merebaknya Virus Corona 

Apa yang dilakukan Alvin Poussaint diamini pula oleh Carl Bell, seorang psikiater di Jackson Park Hospital Family Medicine Clinic dan profesor psikiatri klinis di University of Illinois di Chicago’s School of Medicine, juga memandang rasisme ekstrem sebagai bias patologis yang menandai gangguan kepribadian.

Kepada APA, Bell mengusulkan bias patologis ditambahkan ke dalam DSM sebagai ciri gangguan kepribadian.

Namun, APA kembali menolak karena organisasi tersebut menilai rasisme selalu ada di masyarakat.

Belakangan, APA akhirnya mengakui beberapa faktor kejiwaan yang menyebabkan seseorang menjadi rasis, meskipun mereka menegaskan bahwa penelitian lebih jauh terhadap hipotesis tersebut masih diperlukan. (Sbg/Rig)

Comments