Ilustrasi Klaim palsu Corona
(sumber: boom live.in)

Sabigaju.com – Di masa pandemi Corona, ada  sejumlah selebriti ahingga tokoh publik yang kerap membuat kegaduhan lewat konten konten media sosia; yang menganggap remeh bahaya virus corona bagi manusia.

Lewat aku media sosial, mereka menyuarakan opini yang terkesan menganggap remeh bahaya virus coronna hinnga melibatkan teori konspirasi segala.

Sebagai contoh aktor Woody Harrelson dan rapper MIA yang memposting mengenai kecurigaan mereka soal penyebaran COVID-19 melalui akun sosial media mereka, meski tak lama dihapus.

klaim palsu dari Presiden AS Donald Trump menjadi sampel paling besar yang memperlihatkan bahwa ‘politisi’ memegang pengaruh yang sentral terhadap misinformasi soal COVID-19.

Terakhir yang paling disorot adalah musisi Anji yang dikecam para pakar kesehatan lantaran konten videonya bersama Hadi Pranoto. Dalam video wawancara Anji, Hadi Pranoto menyebutkan cairan antibodi Covid-19 yang ditemukannya bisa menyembuhkan ribuan pasien positif corona.

Perusahaan-perusahaan teknologi seperti Google, Facebook, Twitter, dan TikTok sedang mencoba untuk menindak penyebaran informasi menyesatkan dari platform mereka, bahkan dari para politisi.

BACA JUGA: Anji Lagi-lagi Bikin Kontroversi, Akankah Dibui?

Penelitian Seleb Serig Menyebar Hoax dan Klaim Palsu Covid-19

Peneliti Reuters Institute di Oxford University pernah melakukan riset terkait siapa sebenarnya yang berperan besar menyebarkan berita hoaks atau klaim palsu terkait virus corona penyebab Covid-19.

Studi mereka menemukan, kelompok influencer seperti selebriti dan politisi dengan jumlah pengikut yang besar di media sosial terbukti berperan besar dalam menyebarkan klaim palsu virus corona.

Dalam laporan yang terbit beberapa waktu lalu, peneliti untuk studi jurnalisme menemukan bahwa 20 persen selebriti, politisi, dan tokoh publik lainnya bertanggung jawab atas penyebaran klaim palsu virus corona.

Sementara itu, 69 persen klaim mereka beredar di sosial media. Ada kekhawatiran bahwa klaim palsu atau disinformasi yang beredar di internet akan berdampak pada kesehatan masyarakat di dunia nyata.

BACA JUGA: Please, Jangan Tiru Perilaku Covidiot Para Selebriti Dunia Ini! 

Dampak Besar Terhadap Masyarakat

Disinformasi yang dilakukan tokoh publik dengan jutaan pengikut di Twitter, Instagram, atau YouTube, akan berdampak pada pemahaman kita tentang virus corona. Sering kali, disinformasi menjangkau lebih banyak orang dibanding media berita umum.

“Kelompok ini (politisi, selebriti, dan tokoh publik) punya jangkauan luas untuk konten yang mereka sebarkan,” kata Scott Brennen, peneliti di Reuters Institute.

“Ada banyak klaim palsu tentang kebijakan dan tindakan otoritas publik terkait virus corona. Namun, kami melihat juga banyak informasi yang salah dari sisi medis,” imbuhnya.

Peneliti di Reuters Institute mengimbau masyarakat agar tidak meremehkan pengaruh klaim palsu yang disebarkan sekelompok orang di sosial media.

Pasalnya, orang-orang yang menyebarkan klaim palsu tampaknya memiliki banyak alasan untuk berbagi informasi yang salah di manapun.

BACA JUGA: Social Media Distancing Juga Perlu Kamu Lakukan

Peran Ilmuwan Dibutuhkan

Sebelumnya laporan lain dari studi yang dilakukan Dr Daniel Allington, dosen senior King’s Collage London bekerja sama dengan Center for Countering Digital Hate.menunjukkan adanya hubungan antara informasi salah yang disebarkan dan kepatuhan menjalankan tindakan pencegahan COVID-19.

Mereka menemukan orang yang percaya klaim palsu cenderung mengabaikan protokol kesehatan. Bahkan cenderung tidak peduli pedoman pencegahan Covid-19 seperti menjaga jarak, cuci tangan, dan pakai masker.

Peran ilmuwan berbasis pada bukti ilmiah diperlukan untuk menangkal serbuan informasi yang tidak rasional. (Sbg/Rig)

Comments