Suku Kerinci juga menganut sistem Matrilineal (Foto Instagram abang_ajizah)

Sabigaju.com –  Pada bagian pertama Sabigaju telah menguraikan beberapa suku lain di Indonesia selain suku Minangkabau yang menganut sistem kemasyarakatan berdasar dari pihak ibu atau sistem matrilineal.

Matrilineal berasal dari kata mater yang artinya ibu dan linea yang artinya garis. Jadi, matrilineal berarti mengikuti garis keturunan yang ditarik dari pihak ibu.

Nah melanjutkan tulisan di bagian pertama, Sabigaju kini melanjutkan pembahasan suku lain yang juga menganut sistem Matrilineal.

5. Suku Ocu

Suku Ocu merupakan salah satu suku yang mendiami wilayah kabupaten Kampar, Riau. Sampai sekarang masih menjadi perdebatan apakah suku Ocu merupakan suku yang berdiri sendiri atau merupakan bagian dari salah diantara suku Melayu atau suku Minangkabau.

Walau memiliki banyak kemiripan dengan suku Minangkabau, namun suku Ocu membantah keras bila disebut keturunan Minangkabau Bagi mereka, karakter dan kebiasaan orang Ocu berbeda jauh dengan suku Minangkabau.

Masyarakat Ocu sendiri terdiri atas beberapa klan atau suku, yaitu suku Piliang, Domo, Putopang, Kampai, dan suku Mandiliong. Suku-suku tersebut diwariskan dari ibu sehingga menjadikan suku Ocu sebagai salah satu suku penganut sistem kekerabatan matrilineal di Indonesia.

6. Suku Kerinci

Suku Kerinci merupakan suku penganut matrilineal terbesar di Indonesia setelah suku Minangkabau. Populasi suku Kerinci sekitar 300 ribu jiwa yang sebagian besar dari mereka mendiami Kabupaten Kerinci.

Suku Kerinci sendiri disebut-sebut salah satu suku tertua di dunia. Mereka disebut sebagai perpaduan antara Proto Melayu dengan penduduk asli yang mendiami wilayah mereka. Ini menjadi bukti bahwa tanah Sumatera telah dihuni oleh manusia sebelum kedatangan Proto Melayu.

Di dalam adat matrilineal yang dianut suku Kerinci, suami harus tunduk dan taat pada tenganai rumah yang merupakan saudara laki-laki dari pihak ibu.

7. Suku Lawangan

Suku Lawangan mendiami daerah bergunung-gunung antara aliran Sungai Barito terus ke sebelah barat ke daerah aliran Sungai Kapuas. Daerah itu termasuk dalam wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin, di Provinsi Kalimantan Selatan.

Dalam sistem hubungan kekerabatan, suku lawangan cenderung bersifat matrilineal, mungkin karena pengaruh adat menetap sesudah nikah yang matrilokal (suami menetap di lingkungan keluarga asal isteri).

Suku Lawangan juga mengenal adat ganti tikar (sosorat), artinya bila isteri meninggal maka suaminya harus kawin dengan saudara perempuan almarhum isterinya. Adat ini bertujuan agar pemilikan harta tetap berada pada pihak perempuan. (Sbg/Rig)

Comments