Masa belajar dari rumah yang trlalu lama di masa pandemi punya reesiko buruk terhadap anak.
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Semenjak wabah corona merebak di Tanah Air, pemerintah memutuskan untuk menutup sekolah. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang biasanya berada di ruang kelas menjadi belajar dari rumah dengan mengandalkan gadget.

Dan hingga kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum menentukan kapan dimulainya tahun ajaran baru sekolah pada 2020., karena dipusatkan di Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

Masa belajar dari rumah melalui media online yang terlalu lama memiliki dampak yang buruk. Apalagi untuk sistem pendidikan di Indonesia yang masih diwarnai dengan ketimpangan yang tinggi dari segi infrastruktur dan teknologi digital. Simak ulasnnya Berikut Ini.

BACA JUGA: Begini Panduan New Normal Kala kembali Bekerja di Kantor

Resiko Tertinggal dan Kekerasan Terhadap Anak

Menurut pakar homeschooling dari Harvard Law School, James Dwyer, tidak yakin penutupan sekolah sementara merupakan pilihan tepat. Sejak Maret 2020, sebagian besar sekolah di Amerika Serikat tutup  menjai belajar dari rumah.

Menurut Dwyer, homeschooling berpotensi membuat anak tertinggal secara akademis. Profesor yang menulis buku Homeschooling: The History and Philosophy of a Controversial Practice itu juga menyebutkan homeschooling memicu kekerasan pada anak di rumah.

“Mengingat apa yang kita ketahui tentang kerentanan relatif terhadap virus corona, keputusan penghentian kegiatan belajar di sekolah lebih megutamakan kesejahteraan orang dewasa daripada kesejahteraan anak-anak,” ungkapnya.

Dwyer merujuk pada kondisi umum di mana anak-anak memiliki kans lebih rendah tertular Covid-19 dibandingkan orang dewasa dan lansia. Dia berpendapat, akan jauh lebih baik jika sekolah dibuka kembali sesegera mungkin.

Pendapat Dwyer mungkin terkesan ekstrem, tapi dia punya dasar untuk argumennya. Studi pada 2014 menemukan bahwa 47 persen anak korban kekerasan adalah yang bersekolah ataupun belajar dari rumah serta 29 persen lain tidak pernah terdaftar di sekolah.

Sebelum pandemi corona merebak, tiga persen anak-anak di Amerika Serikat yang mengikuti homeschooling. Dwyer menyerukan kepada orang tua dan siapapun yang kini mendampingi anak belajar di rumah memiliki pendidikan dasar demi kemajuan akademik siswa.

BACA JUGA: Dirumahkan Saat Pandemi, Waktunya Asah Keterampilan! 

Resiko Pelecehan

Profesor lain di Sekolah Hukum Harvard, Elizabeth Bartholet, sepakat bahwa anak-anak lebih rentan dengan kekerasan dan pelecehan setelah penutupan sekolah. Terlebih, pandemi memberikan lebih banyak pemicu bagi orang tua dan pengasuh untuk bersikap kasar.

“Ketegangan di rumah yang mengarah pada penganiayaan sangat mungkin melonjak karena meningkatnya pengangguran, ketakutan terhadap Covid-19, isolasi, dan kemungkinan meningkatnya penggunaan alkohol dan obat-obatan,” ujarnya, dikutip dari laman Insider.

Hal yang bisa semakin memperparah masalah adalah keputusan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS bahwa pekerja sosial tidak perlu memantau anak asuh secara langsung. Komunikasi dilakukan melalui konferensi video.

Bartholet mengatakan, pekerja sosial seharusnya tetap melakukan kunjungan langsung ke rumah untuk mengetahui lebih akurat apakah anak-anak dalam kondisi aman. Dia tidak mau kegiatan belajar dari rumah justru berujung pada penganiayaan.

BACA JUGA: Film Bertema Pendidikan Buat Selingan Study At Home

Makin Banyak yang memilih Homeschooling

Dalam makalah yang ditulisnya beberapa waktu lalu di Arizona Law Review,  Bartholet mengungkapkani risiko terkait homeschooling ataupun belajar dari rumah. Kelemahan utama dalam sistem, menurut Bartholet, adalah masih sedikitnya peraturan soal homeschooling.

Bartholet setuju bahwa upaya menutup sekolah untuk sementara waktu sangat penting untuk mencegah penyebaran corona. Di sisi lain, Bartholet khawatir banyak keluarga nantinya lebih memilih agar anak mereka belajar dari rumah homeschooling meski sekolah kembali buka.

Data menunjukkan, dugaan Bartholet sepertinya akurat. Survei oleh RealClear Opinion Research yang melibatkan 2.122 responden mengungkap, 40 persen keluarga mempertimbangkan menyekolahkan anak untuk belajar darii rumah atau sekolah virtual setelah pandemi berlalu. (Sbg/Rig)

Comments