difteri
Sumber: parenting.dream.co.id

Sabigaju.com – Beberapa waktu belakangan ini penyakit difteri dikabarkan merebak sangat cepat di beberapa wilayah Indonesia. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menetapkan merebaknya wabah ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Penyakit ini menyerang selaput lendir di hidung serta tenggorokan. Penyakit ini dapat menimbulkan lapisan tebal berwarna abu-abu pada tenggorokan sehingga membuat penderitanya kesulitan makan dan bernapas. Bila sampai infeksi, toksin yang dihasilkan oleh bakteri ini bisa mengakibatkan gagal jantung, kelumpuhan, bahkan kematian.

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Faktor sanitasi, gizi buruk, dan imunisasi yang tak lengkap dikatakan turut mendukung merebaknya wabah difteri. Imunisasi lengkap yang dimaksud yakni selain vaksin yang diberikan melalui imunisasi dasar pada bayi, juga imunisasi lanjutan (booster).

Cara penularan

Penyebabnya adalah bakteri bernama corynebacterium. Bakteri ini dapat menularkan penyakit lewat partikel di udara, benda-benda pribadi, serta peralatan rumah tangga yang sudah tercemar. Namun, yang paling mudah dan paling sering jadi media penularan bakteri ini adalah udara. Jika Anda secara tidak sengaja menghirup udara yang tercampur batuk atau bersin orang yang telah menderita difteri, kemungkinan Anda akan tertular.

Pencegahan dengan vaksin

vaksin
Sumber: mediskus.com

Pilihan utama untuk mencegah tertular dari bakteri penyebab difteri tentu saja adalah dengan imunisasi. Pemberian imunisasi DPT sejak bayi sebaiknya tidak dilewatkan. Saat ini, seiring dengan merebaknya penyakit menular ini, Kemenkes telah menetapkan program Outbreak Response Immunization (ORI) untuk vaksin difteri ulang. ORI memang ditujukkan untuk anak-anak usia 1 sampai 18 tahun, namun disarankan orang dewasa pun melakukannya sebab kekebalan tubuh bisa menurun seiring berjalannya waktu.

Ada 3 jenis imunisasi DPT yang diberikan sebanyak lima kali sejak anak berusia 2 bulan hingga 6 tahun, yakni DPT-HB-Hib, DT, dan TD. Lewat dari usia itu, dianjurkan untuk mengulang booster TD setiap 10 tahun. Nah, dalam keadaan KLB difteri ini, orang dewasa sebaiknya melakukan imunisasi booster TD untuk mencegah penularan.

Amankah vaksin ini?

Vaksin difteri merupakan produk dalam negeri yang sudah teruji kualitas dan keamanannya oleh BPOM dan Badan Kesehatan dunia. Jadi, vaksin ini sudah dipastikan aman.

Setiap orang memiliki peluang untuk tertular infeksi bakteri penyebab difteri. Namun tentu saja peluang bagi orang yang belum pernah vaksin akan lebih besar dibanding yang sudah divaksin. Jadi, pentingkah vaksin difteri? Tentu saja, penting. Anda sudah vaksin, Sobat Sabi?

Comments