Berjemur sinar mataari
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Di tengah pandemi corona saat ini, begitu banyak orang yang punya kebiasaan berjemur di bawah sinar matahari lantaran diyakini bisa  menangkal infeksi Virus COVID-19.

Kebanyakan orang percaya bahwa berjemur di pagi hari bisa meningkatkan imunitas tubuh seseorang. Itu artinya, kamu bisa melindungi diri agar tidak tertular dari penyakit yang disebabkan virus berbahaya.

Namun, apakah dengan berjemur bisa membunuh virus corona?

BACA JUGA: Kacamata Bisa Jadi APD Saat Pandemi Corona 

Tidak Mematikan Virus COVID-19

Berjemur memang dapat meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Namun tidak ada riset spesifik strategi tersebut efektif pada COVID-19.

Berjemur di bawah matahari adalah satu dari serangkaian pengobatan yang keliru terkait virus corona yang telah dipatahkan selain mitos  mengonsumsi bawang putih dan minum air setiap 15 menit.

Berjemur di bawah sinar matahari tidak mematikan kuman yang ada di dalam tubuh atau yang menempel di tangan kita.

Dengan begitu, kamu tidak perlu mempercayai hal tidak benar seperti menjemur badan di bawah matahari tersebut.

BACA JUGA: Gaes, Hindari Sederet Perilaku Covidiot Berikut Ini

Berjemur dan Vitamin D

Kendati berjemur badan tidak dapat membunuh virus corona atau SARS-CoV-2, tetapi menjemur badan di bawah sinar matahari yang tepat dapat menghasilkan vitamin D3 yang dibutuhkan oleh tubuh.

Vitamin D3 dibutuhkan oleh tubuh untuk membantu tubuh menyerap kalsium dan fosfor yang penting untuk membangun dan menjaga tulang yang kuat.

BACA JUGA: Ingat Adab! Jangan Jadikan Pandemi Corona Bahan Bercanda 

Waktu Terbaik Berjemur

Umumnya, orang berpendapat sinar matahari terbaik adalah pagi hari. Namun, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa waktu terbaik adalah saat siang hari.

Sebuah penelitian mengemukakan bahwa waktu terbaik untuk mendapatkan sinar matahari adalah antara pukul 10.00 hingga pukul 15.00. Sebab, pada waktu inilah risiko kanker kulit jenis cutaneous malignant melanoma (CMM), justru berada di angka yang paling rendah.

Selain itu, paparan sinar matahari yang didapatkan antara pukul 10.00 hingga pukul 15.00, dapat memicu produksi vitamin D, yang dapat bertahan dua kali lebih lama dalam darah, jika dibandingkan dengan vitamin D yang dikonsumsi dalam bentuk suplemen atau makanan.

Meski begitu, di jam-jam tersebut, risiko kulit terbakar matahari juga akan meningkat karena sinar matahari cukup menyengat. Sehingga, Anda perlu membatasi waktu paparan.

Waktu ideal terkena paparan matahari, hanyalah 5-15 menit setiap harinya. Itu pun bisa didapatkan saat melakukan kegiatan sehari-hari, seperti berjalan saat siang hari. Anda tidak perlu meluangkan waktu khusus untuk berjemur, demi mendapatkan vitamin D yang dibutuhkan.

Paparan sinar matahari di wajah, tangan, atau lengan sebanyak dua hingga tiga kali seminggu, sudah cukup untuk menjaga kadar vitamin D di tubuh kita. (Sbg/Rig)

Comments