Ganja
Pemerintah Junta Militer Thailand resmi melegalkan ganja sebagai bahan pengobatan di negeri tersebut. (Foto: llustration by Visiva Studio/Shutterstock)

Sabigaju.com – Sejumlah negara di dunia mulai melegalkan ganja untuk keperluan medis, seperti Kolombia, Kanada dan Amerika Serikat, sementara negara-negara di Asia Tenggara masih berkutat dengan regulasi yang mengharamkan peredaran tanaman psikotropika itu dengan ancaman hukuman mati. Indonesia, Malaysia dan Singapura termasuk di antaranya.

Negara-negara di Asia Tenggara dikenal memiliki sejumlah aturan yang memberatkan bagi pengguna, pemilik dan penyebaran ganja.

Namun, hembusan angin perubahan kini sepertinya sudah sulit di cegah. Sebuah perubahan tengah merasuk di Kawasan Asia Tenggara.

Pemerintah Thailand kini mengizinkan perdagangan mariyuana untuk keperluan medis dan penelitian.hal ini menjadikan Thailand sebagai negara pertama di kawasan Asia Tenggara yang mengizinkan penggunaan ganja sebagai obat.

Lantas, apakah negara-negara lain di kawasan Asia tenggara lainnya bakal menyusul?

BACA JUGA:

 

Kado Tahun Baru dan Peluang Bisnis

Langkah Pemerintah Thailand untuk melegalisasi ganja di negeri gajah itu dirayakan sebagai “kado tahun baru” untuk rakyat Thailand.

Hingga dekade 1930-an rakyat Thailand sebenarnya masih memiliki tradisi medis menggunakan mariyuana untuk mengurangi rasa sakit atau keletihan. Setelah lama menghilang berkat Undang-undang Narkoba 1979, kini budaya lama itu diizinkan untuk bersemi kembali.

(Foto: Unsplash)

Setelah dilegalkan, warga Thailand akan mendapatkan ganja yang diperlukan untuk keperluan pengobatan, jika mereka memiliki resep atau sertifikat yang diakui, lapor Bangkok Post.

Dan lisensi untuk produksi dan penjualan produk akan dikontrol dengan ketat oleh pemerintah Thailand.

Sebelumnya berbagai diskursus nasional seputar mariyuana di Thailand berbeda dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Legalisasi mariyuana dirundung kontroversi seputar permintaan perusahaan asing untuk mendaftarkan hak paten atas produk medis berbasis mariyuana.

Bahkan Pemimpin junta militer Thailand, Prayut Chan-Ocha, dikabarkan menggunakan kekuasaannya untuk melindungi produk mariyuana lokal dari ancaman paten perusahaan asing.

Sampai-sampai pemerintah menginvestasikan dana senilai US$ 3,6 juta atau setara dengan 52,5 miliar rupiah untuk membuka perkebunan mariyuana dengan tujuan penelitian.

Analis ekonomi memprediksi pasar global untuk produk mariyuana medis akan mencapai US$ 55,8 miliar pada tahun 2025, menurut riset yang dipublikasikan Grand View Research pada 2017. Peluang bisnis itu pula yang diintip oleh pemerintah Thailand ketika melegalkan mariyuana.

Ganja untuk kepentingan medis, kata para ahli

Ganja
(Foto: Pixbay)

Para ahli mengatakan ganja bermanfaat untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan:

Untuk mengobati nyeri kronis pada orang dewasa
sebagai pengobatan mual dan muntah akibat kemoterapi, dapat membantu pasien yang mengidap gejala multiple sclerosis. juga tengah dikembangkan sebagai obat untuk para  pengidap diabetes

Selain itu, ganja secara medis terbukti dapat membantu Meningkatkan kualitas tidur pada individu dengan kondisi khas, termasuk fibromyalgia dan obstructive sleep apnoea syndrome serta bermanfaat bagi pengidap epilepsi:

Studi terbaru telah menemukan bahwa cannabidiol (CBD – bahan aktif dalam ganja) mengurangi aktivitas kejang pada individu dengan kelainan epilepsi yang langka pada masa kanak-kanak – Lennox-Gastaut syndrome dan Dravet syndrome. (Sbg/Rig)

Comments