Aryoputro Nugroho memandu Sabitalk dengan bintang tamu psikolog anak Audrey Susanto M.PSI, PSI, CAS dari lifespring counseling. (Foto: Sabigaju.com)

Sabigaju.com – Saat ini kita hidup di era kultur kompetitif dimana setiap orang tua selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak. Banyak orangtua yang mendaftarkan anak mereka untuk mengikuti pelajaran tambahan atau les, dengan harapan nantinya menjadi anak yang berhasil di kemudian hari.

Lantas, kapankah suatu kegiatan ekstra seperti les pelajaran bisa dianggap menjadi terlalu berlebihan terhadap seorang anak?

Hal tersebut mengemuka belum lama ini dalam dialog Sabitalk yang dipandu Aryoputro Nugroho dengan bintang tamu seorang psikolog anak Audrey Susanto M.PSI, PSI, CAS dari lifespring counseling.

Menurut Audrey, seorang anak pada dasarnya mempunyai kapasitasnya masing-masing untuk menampung suatu tingkat beban yang didapat dari sekolah dan juga termasuk dari les.

Namun para orang tua kiranya harus bijaksana untuk melihat apakah si anak kemungkinan stress saat mengikuti kegiatan ekstra tersebut. Hal itu bisa dilihat dari gejala seperti apakah si anak mulai susah tidur, mulai susah makan, mulai mengurung diri, mual-mual dan lainnya.

Bagaimana Ideal yang Perlu Dilakukan

Dalam dialog Sabitalk yang dipandu Aryoputro, Audrey Susanto mengunkapkan bahwa seorang anak dapat menjadi stress jika diberikan kegiatan terlalu banyak oleh orang tua. (Foto: Sabigaju.com)

Disisi lain, Audrey juga menyebut bahwa seorang anak yang terlalu banyak diberikan les belum tentu berdampak pada kemampuan problem solving. Karena hal tersebut akan bergantung pada jenis les yang diberikan dan bagaimana pola didik yang diberikan orang tua kepada si anak.

Menurut Audrey, saat ini banyak anak yang mempunyai kemampuan akting seperti layaknya artis. Ia pun menyarankan, untuk menanggulangi hal tersebut, orang tua dapat mendeteksi gejala apakah benar stress atau sedang akting dilihat dari konsistensi dia.

Audrey mencontohkan saat si anak bilang stress capek mau istirahat, maka orangtua dapat memancing si anak dengan ajakan ke mall.

Bila si anak tetap konsisten mengatakan capek dan menolak ajakan ke mall, berarti dia berkata benar. Namun, kalau dia tiba-tiba senang dan mau ikut ajakan orangtua maka kemungkinan besar anak tersebut sedang bermain drama dengan orang tuanya ujar Audrey.

Sebagai penutup Audrey menyatakan bahwa menjadi orang tua itu adalah sebuah proses yang mendidik kita agar berlaku kompak sebagai team mate saat mendidik anak.

Simak yuk video keren Sabitalk yang dipandu Aryoputro dibawah ini agar kita mengetahui kapankah suatu kegiatan dianggap terlalu berlebihan bagi tumbuh kembang anak. (Sbg/Ary/Rig)

Comments