sabilove

Pertanyaan dari Anonim untuk SabiLove:

Kami pacaran sudah tiga tahun. Sampai bulan Oktober kemarin dia sempet nginep dirumah aku dan itu merupakan hari paling menyenangkan buat kita berdua, dan entah kenapa itulah hari terakhir yang kita habisin bareng-bareng.

Setelah itu dia mulai jarang ngontak aku lagi sampai di bulan Desember pas anniv kita yg ke-3 tahun, dia cuma ngucapin happy anniversary tanpa doa-doa bahagia yang biasanya dia panjatin. Dia nggak ngajak ketemu, telfon, atau apapun. Dia melewati tanggal itu seperti tidak ada apa-apa. Jelas aku sedih bukan main tapi ga bisa protes juga.

Kemudian di pertengahan Desember, temen aku ngirimin foto kalo mantan aku ini lagi makan sama cewek sebuah restoran. Aku syok banget. Tapi dia bilang itu cuma temen dia. Aku coba nanya ke temen-temennya yang lain dan semua bilang begitu. Tapi dia semakin memperlakukan aku dengan tidak baik. Udah nggak ada perhatian-perhatian antara kita berdua. Dia berubah dan aku semakin rindu.

Puncaknya adalah tgl 10 januari kemarin, aku coba nanya “kita sebenarnya apa sih? Chatting nggak pernah, telfonan apalagi. Masih pacaran nggak sih kita?” Di situlah aku nyesel. Karena pertanyaanku, dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Dia bilang dia jenuh, rasanya udah beda sama aku. Dia bilang dia pingin mengakhiri semua ini supaya dia ngerasain rasanya kehilangan aku.

Jawaban dari Ladrina

Hmm.. Dia bilang jenuh itu mungkin. Tapi kalau dia bilang pengen mengakhiri semuanya supaya dia bisa ngerasa kehilangan kamu, mendingan lupakan dia dan move on. Karena pernyataan ini mirip-mirip sama “Kamu terlalu baik buat aku”, “Kamu pantes dapet yang lebih baik”, atau “Aku pengen serius belajar dulu”. Intinya dianya emang udah nggak kepengen, tapi nggak menemukan alasan yang cukup halus untuk pergi. Akhirnya pakai alasan itu. Biar kesannya “Aku nggak kemana-mana kok, aku masih di sini, cuma mau pergi main aja sebentar, nanti juga balik lagi”. But well, i guess he won’t.

Jenuh dalam hubungan itu penyakit yang paaaaaaling sulit disembuhin menurutku pribadi. Nggak ada penyebabnya, nggak ada yang salah dan nggak ada yang benar di sini. Kamu nggak salah, dia juga nggak bisa disalahkan. Ini soal hati yang bahkan kita sendiri nggak bisa kontrol. Kalau masalahnya jelas, misalnya selingkuh, kasar, atau suka bohong, kan jelas masalahnya apa, dan penyelesaiannya gimana. Mau diselesaikan atau pergi aja.

Kalau jenuh, aku pribadi belum pernah dapat formula untuk mengembalikan sparks untuk hubungan yang sudah jenuh. Aku cuma tau cara mencegah jenuh ini terjadi. Biasanya, jenuh itu karena salah satu pihak merasa kalau hubungan ini sudah nyaman, dan tidak lagi kepengen berusaha yang gimana-gimana untuk pasangannya. Toh, dia sudah jadi hak milik.

Di satu sisi, eh kebetulan mungkin dapetnya pasangan yang suka tantangan, suka sama hal-hal baru. Dan dalam hubungannya, hal ini sudah nggak ada lagi, karena salah satu pihak ya sudah merasa nyaman itu. Padahal sparks itu harus dijaga dengan berbagai cara. Liburan bareng, kejutan kecil, ambil kelas hobi bareng, punya kegiatan seru dan baru bareng. Klasik, tapi ini beneran perlu lho.

Nah karena ini sudah kejadian, ya coba aja kamu tungguin pacar (yang sudah jadi mantan ini). Kasih waktu, misalnya maksimal tiga bulan. Kalau ternyata dia nggak kembali, ya dia memang pengen pergi. Kamu harus menerima bahwa kalian nggak bisa bersama lagi, dan mulai move on. Gimana caranya? Kamu bisa baca SabiLove edisi ini, supaya dapat pencerahan.

Semoga jawabannya membantu ya!

 

Love,

Ladrina

Comments