Halo sabilovers,

Berikut ada curhatan untuk sabilove minggu ini, silahkan simak curhatan dari mba X dibawah ini.

Langsung saja ya mbak, saya X, saya pernah sedikit minta solusi tentang anxiety juga di Twitter pada mba Ladrin dan senangnya dibalas juga. Tapi sekarang bukan tentang itu, saya mau bercerita perihal kisah cinta saya, mbak, saya bulan November diputuskan oleh pacar saya.
Pacar saya beda agama. Hubungan kami 2 taun, dan banyak sekali kekerasan verbal dan fisik yg dia lakukan. Alhamdulillah, saya terlepas dari dia, proses move on saya juga cukup dibilang sebentar, tetapi tetap saat proses itu saya pernah mau pindah agama, bunuh diri, dll..
Singkat cerita saya bertemu tuan A di suatu kedai kopi, saya gatau rencana Tuhan unik sekali. Kami dekat-lalu kami ingin serius, mempunyai mimpi yg sama. Saya tidak pernah sebahagia ini, mbaaak. Really. Tuhan tau saya sakit selama beberapa tahun lalu mungkin, ya? Hehe. Tapi, jalan manusia memang tidak pernah ada yg mulus… saat tujuan sudah pasti, cobaan banyak datang. Mr A lahir di keluarga terpandang, ayahnya dokter, ibunya pintar keluarganya agamis sekali.
Oh ya, basic saya, saya hanyalah seorang bidan baru lulus, dan mau lanjut kuliah d4 lg, ayah saya sudah meninggal, ibu saya wirausaha. Kemarin Mr A ini wisuda, saya datang menggunakan rok dan blouse atasan yg sewajarnya, padahal setiap hari saya pakai kaos band dan celana jeans. Saya diajak makan oleh keluarga mr A, setelah pulang, mr a cerita bahwa ibu ga suka cara saya berpakaian, dan kakak saya juga belum menikah, itulah mengapa ibunya agak tidak suka sama saya.
Padahal saat ngobrol biasa gitu enak, kita cerita tentang kesehatan, dapur, dll. Mbaaak, sungguh saya ingin serius sama mr A. Bagaimana cara menaklukan hati sang mertua tp masih tetap jd diri sendiri? Saya bukan orang agamis, tp saya tetap belajar. :’)
Huhu terimakasih banyak ya mbak mbak kesayangan.. sehat dan bahagia berlimpah selalu… Semesta memberkati, salam buat kak Kiko, dan non binay! Luvs..

Berikut adalah jawabannya ya.

Halo kamu,

Terima kasih sudah mau bercerita di sini, saya coba bantu semampu saya dan berdasarkan apa yang ada di kepala saya.
Sebelumnya izinkan saya bercerita mengenai pengalaman saya mencari baby sitter untuk anak semata wayang saya. Sekitar 3 tahun lalu, saya masih ingat jelas ketika saya harus mewawancara beberapa kandidat yang mau membantu saya mengurus anak saya. Bolak-balik saya bertanya pada mereka mengenai hal besar hingga hal kecil, memperhatikan secara detail dari ujung rambut hingga ujung kuku. Bertanya mengenai latar belakang keluarga, tempat tinggal, dan pengalaman mengurus anak. Saya lakukan itu semua, semata karena saya ingin anak saya dipegang oleh orang yang terbaik.
Itu masalah baby sitter.
Jadi coba bayangkan bagaimana seorang ibu ketika mau melepaskan anaknya seutuh-utuhnya ke perempuan yang baru ia kenal, yang anaknya pilih sendiri secara sadar, dan nantinya, akan menjadi pendamping hidupnya hingga beliau mati? Pasti jauh lebih ribet kan?
Setiap Ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, itu hal yang harus kamu bisa mengerti. Kesampingkan masalah restu, karena kemungkinan orang tua pacar kamu hanya ingin tau tentang kamu, tentang siapa kamu dan bagaimana kamu dibesarkan; sehingga mereka terkesan judes dan tidak menerima kamu, tapi sebenarnya dalam hati mereka hanya ingin mencari tau dan memberikan kebebasan pada anaknya dalam memilih.
Namun, memang terkadang orang tua pacar masih belum sreg atas pilihan anaknya, dan disitulah mulai ada konflik. Jadi mari kita coba bahas ya..

Pacar Kamu Memiliki Peran Penting

Saya hanya ingin menegaskan bahwa yang memiliki peran paling utama untuk meyakinkan orang tua pacar kamu adalah pacar kamu sendiri, bukan kamu; karena tugas kamu adalah menjadi diri kamu sendiri dalam versi sebaik-baiknya.

Memahami Tentang Cara Bersikap

Sebelum kamu memahami konteks yang pertama, saya memiliki pandangan bahwa memang terkadang manusia tidak selalu bisa menjadi diri sendiri seutuhnya di depan beberapa orang. Manusia terkadang memiliki topeng yang ia kenakan ketika waktu-waktu tertentu, itu bukan sebuah kepalsuan melainkan sebuah kedewasaan untuk menempatkan diri.
Contohlah bila mau bertemu bos di kantor pasti kita mengenakan topeng yang berbeda ketika kita bertemu dengan teman-teman semasa kecil, atau ketika bertemu kolega sekantor. Tapi, satu-satunya orang yang kamu bisa “telanjang” adalah di depan pasangan kamu, tanpa topeng, tanpa ada yang disembunyikan.
Jadi, memang kita harus bisa menempatkan diri sewajarnya di depan calon mertua; berpakaian rapi, berbahasa sopan dan menjalankan tata krama yang lebih dari biasanya; ketika kamu sudah melakukan itu semua artinya tugas kamu sebagai “pacar anaknya” sudah selesai, untuk tugas meyakinkan lebih jauh adalah tugas dari pacar kamu.
Karena percaya deh, jika pacar kamu benar-benar ingin bersama kamu, dan dia percaya bahwa kamu adalah sosok yang baik, dia akan berjuang setengah mati untuk kamu.
Comments