Ganjil -Genap

Sabigaju.com – Hari ini Rabu (7/8) Pemerintah DKI Jakarta, resmi memperluas rute jalan yang terkena sistem ganjil genap di Ibu Kota. Jika sebelumnya hanya 9 ruas jalan yang diberlakukan pengaturan ini, maka kini ada 16 ruas lagi yang ditambahkan.

Ruas baru yang terkena sistem ganjil-genap ini tersebar di beberapa wilayah. Di Jakarta Pusat ada Jl Pintu Besar Selatan, Jl Gajah Mada, Jl Hayam Wuruk, Jl Majapahit, Jl Suryopranoto, Jl Balikpapan, Jl Kyai Caringin. Lalu ada Jl Salemba Raya, Jl Kramat Raya, Jl Senen Raya, dan Jl Gunung Sahari.

Ada juga jalan yang beririsan dengan kota lain seperti Jl Tomang Raya dan Jl Pramuka. Di Jakarta Selatan ada Jl Sisingamangaraja , Jl Panglima Polim, dan Jl Fatmawati (dari Blok A hingga Jl TB Simatupang).

BACA JUGA: Polusi Udara Tinggi, Waspada Liburan di Jakarta 

Sistem ini akan diuji coba di ruas jalan tambahan mulai 12 Agustus-6 September 2019, sebelum diterapkan resmi pada 9 September 2019.

Ganjil genap diberlakukan pada Senin sampai Jumat, kecuali hari libur. Jam pemberlakuan kebijakan ini juga bertambah. Jika sebelumnya hanya pada pukul 06.00-10.00 dan pukul 16.00-20.00 WIB, kini untuk malam hari ditambah satu jam sampai pukul 21.00 WIB.

Sistem ganjil genap baru ini juga tak mengecualikan kendaraan dari dan menuju jalan tol. Jadi, pada saat kendaraan bermotor dari luar area menuju pintu tol, jika melintas di area yang sudah ditentukan, tetap dikenakan aturan ini.

Nantinya pihak kepolisian akan menindak pelanggar ganjil genap setelah masa uji coba selesai.

BACA JUGA: Kuliner Super untuk Menghadapi Polusi Udara Jakarta 

Sosialisasi Area Ganjil-Genap

Sosialisasi rute baru ini akan dimulai sejak hari ini (7/8). Saat ini adalah masa sosialisasi pada masyarakat sehingga masa rambu terpasang 30 hari

Perluasan ganjil-genap ini sesuai dengan instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang dituangkan dalam Instruksi Gubernur Nomor 66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara.

Pemotor Tak Kena Imbas

Adapun pemotor tidak terkena imbas kebijakan perluasan ganjil-genap ini. Mereka bebas melintas tanpa dipengaruhi nomor pelatnya.

Sebelumnya sempat dikaji kemungkinan pemotor juga kena aturan ini. Aturan ini juga tak dikenakan untuk kendaraan listrik.

BACA JUGA: Dampak Polusi Udara, Bikin Kecerdasan Menurun

Dengan tidak melarang sepeda motor, maka kebijakan ini tampaknya tak selaras. Sebab, data menunjukkan, jumlah kendaraan paling banyak di Jakarta justru sepeda motor.

Dengan aturan ini, tak menutup kemungkinan jumlah motor akan bertambah sebab tidak semua pemilik kendaraan pribadi roda empat yang beralih menggunakan angkutan umum saat diberlakukan aturan ini. Karena kebanyakan masyarakat lebih memilih menggunakan sepeda motor. (Sbg/Rig)

Comments