Sabigaju.com – Berita wacana pengiriman hiu paus (Rhincodon typus) yang habitat aslinya di perairan Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menuju Taman Impian Jaya Ancol memicu banyak reaksi dari berbagai kalangan. Forum Pemuda Bahari Indonesia (FPBI) dan Perkumpulan Lintas Alam Borneo sudah menyatakan ketidak-setujuannya terhadap rencana pemindahan hiu paus dari habitat aslinya ke habitat buatan di Sea World tersebut. Hingga tanggal 20 Maret 2018 dini hari ini, angka partisipan yang menandatangani penolakan pengiriman hiu paus Berau ke Ancol ini sudah lebih dari 57.000 dan masih terus bertambah.

Alasan di Balik Penolak Pengiriman Hiu Paus Berau ke Ancol

Ada beberapa alasan di balik suara tidak setuju yang ditunjukkan oleh puluhan ribu masyarakat Indonesia terhadap wacana pengiriman hiu paus Berau ke Ancol. Salah satu alasannya adalah faktor keberlangsungan hidup hewan tersebut. Hiu paus merupakan hewan langka yang populasinya sudah sangat sedikit. Hiu paus ini termasuk spesies yang juga dilindungi oleh negara. Di samping itu, proses reproduksi dari hewan yang berukuran raksasa ini kerap terganggu oleh aktivitas pariwisata. Maka dari itu, pemindahan hiu paus dari Berau menuju Ancol dikhawatirkan membahayakan hewan tersebut.

Dilansir dari Kompas.com, Krisna dari Perkumpulan Lintas Alam Borneo mengungkapkan bahwa hiu paus merupakan hewan yang bermigrasi. Hewan ini dikhawatirkan bisa mengalami stres bila dipindahkan dari habitat aslinya. Krisna juga berpendapat bahwa semestinya hiu paus ini tumbuh dan berkembang di habitat aslinya. Apalagi, hewan tersebut memiliki fungsi penting untuk menyeimbangkan ekosistem perairan di Indonesia.

Selain itu, presenter Riyanni Djangkaru juga menyatakan penolakannya terhadap rencana pemindahan hiu paus Berau di Ancol. Menurutnya, sebagai hewan langka yang dilindungi oleh pemerintah, hiu paus tersebut sebaiknya dibiarkan hidup di habitat aslinya. Dengan tetap berkembang biak di habitat aslinya, akan menjauhkannya dari kepunahan dan juga memaksimalkan  fungsi hiu paus dalam ekologi. Oleh karena itu, Riyanni berpendapat bahwa hiu paus akan lebih berguna dan terjamin kehidupannya bila dibiarkan di habitat aslinya ketimbang dipindahkan ke Ancol untuk kepentingan komersil.

Alasan lainnya adalah kebiasaan hiu paus untuk bermigrasi. Kebiasaan ini otomatis tidak akan terpenuhi bila hiu paus dipindahkan dari habitat asli ke habitat buatan. Peselancar Gemala Hanafiah juga menyuarakan penolakannya pada rencana pengiriman hiu paus tersebut. Dia menyarankan kalau memang ingin melihat hiu paus tersebut, sebaiknya datangi langsung habitatnya bukan sebaliknya.

Fakta Menarik tentang Hiu Paus Berau

Seperti disinggung sebelumnya, reproduksi hiu paus sangat terbatas dan hal itulah yang membuatnya terancam punah. Sayangnya, reproduksi yang rendah tersebut juga disebabkan oleh aktivitas pariwisata. Tak dipungkiri jika ada banyak wisatawan yang tertarik untuk melihat lebih dekat hewan dengan ukuran tubuh besar ini. Sayangnya, hal tersebut membuat hiu paus mudah stres. Di Berau, aktivitas berlaut bersama nelayan untuk mendatangi habitat asli hiu paus menjadi daya tarik pariwisata tersendiri. Tidak sedikit juga wisatawan yang berenang bersama hiu paus karena ingin melihatnya dalam jarak super dekat. Apalagi hewan ini cukup aman dan jinak.

Hiu paus ini bisa dibilang sudah cukup terganggu dengan aktivitas pariwisata di habitat aslinya. Jangan sampai kita meningkatkan ancaman kepada hewan ini dengan menyetujui pengirimannya dari perairan asal mereka tinggal menuju ke habitat buatan di Taman Impian Jaya Ancol. (sbg/Erny)

Comments