Sabigaju.com – Membahas topik tentang generasi millennials dan bagaimana dia bekerja memang menarik. Karakter millennials yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya seringkali membuat mereka terlihat aneh dan tak sesuai dengan dunia kerja yang seharusnya. Namun, daripada menyalahkan sikap hingga pandangan millennials dalam bekerja, kenapa kita tidak berusaha menerima mereka dengan keunikannya dan mencoba beradaptasi bersama? Mungkin karena pikiran semacam itu penulis-penulis asal India, Pritam Singh, Asha Bhandarker, dan Sumita Rai merilis buku yang berjudul Millennials and the Workplace: Challenges for Architecting the Organizations of Tomorrow.

Buku ini disusun atas lima bab yang membahas dengan dalam tentang makna tempat kerja, karakteristik millennial, harapan dan aspirasinya, kesenjangan yang ada, dan kontur tempat kerja yang menciptakan keselarasan antara apa yang diharapkan dan apa yang ditawarkan. Bab-bab tersebut membuat kita memahami bahwa sosok millennials memang berbeda dari generasi sebelumnya, terutama dalam dunia kerja.

Baca juga: Buku Leaders Sebut Adolf Hitler sebagai Pemimpin Inspiratif

Penulis menggarap buku ini karena terinspirasi oleh pola pikir orang-orang muda India yang baru bekerja dan kebutuhan bagi organisasi-organisasi kontemporer untuk diperlengkapi dengan baik serta siap untuk menangani tantangan-tantangan rumit yang dijatuhkan oleh millennials. Walaupun buku ini terinspirasi dari fenomena pekerja di India, tetapi buku ini masih relevan untuk membuka mata kita tentang millennials dan bagaimana organisasi di sini harus siap menghadapi mereka.

Menurut penulis, ada beberapa perbedaan mencolok antara Millennials dengan generasi sebelumnya seperti, millennials beralih dari taat ke pertanyaan. Untuk mau menaati sesuatu, millennials umumnya akan mempertanyakan banyak hal terlebih dulu. Mereka tidak serta merta taat begitu saja. Lalu millennials beralih dari penerimaan ke evaluasi, dari percaya buta ke bertanya, menantang dan menilai, serta memunculkan kesenjangan antara apa yang millennials harapkan dari tempat kerja ke dan apa yang mereka dapatkan di tempat kerja.

Kabar baiknya, buku ini mempelajari millennials di mana mereka telah diprofilkan sesuai dengan latar belakang demografi dan psikografi mereka, bersama dengan faktor kepribadian yang dipilih seperti Work Locus of Control, Nilai Pribadi dan Motivasi Pencapaian. Peneliti juga mencoba untuk membuat sketa kerangka kerja baru untuk merancang organisasi masa depan berdasarkan hasil penelitian empiris dan studi kasus. Penulis juga berfokus pada cara-cara untuk menciptakan tempat kerja masa depan di sekitar harapan Millenial yang paling diinginkan – inovasi kewirausahaan; keadilan, keadilan, dan keadilan; pengembangan diri; dan kehendak bebas.

Selain itu, buku ini juga mengkaji salah satu hasil penting dari kesenjangan yang ada terkait millennials dan tempat kerja hingga ekspektasi millennials terhadap bos yang mereka idamkan. Buku ini juga membahas secara mendalam tentang tipe bos yang disukai oleh Millennials berdasarkan hasil wawancara dalam penelitian. Hasil menunjukkan bahwa kualitas yang disukai oleh millennials tentang bos adalah bahwa bos harus – rendah hati dan mendengarkan; menginspirasi dan memberdayakan; adil dan adil; memberikan umpan balik yang valid dan jujur; pintar dan seorang pemikir yang jernih; memelihara mentor dan membimbing; terbuka dan mudah didekati; dan pembangun tim.

Sobat Sabi yang selama ini penasaran tentang bagaimana millennials berpikir tentang karir, hubungan dengan tempat kerja, dan soal bos yang ada dalam ekspektasinya, maka kalian wajib membaca buku yang ditulis dengan jernih dan berlandaskan penelitian ini! (Sbg/Erny)

Comments