Netizen masih ramai membicarakan Gugatan UU penyiaran yang dilakukan RCTI
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Hingga kini banyak orang masih terus membicarakan soal Gugatan yang dilayangkan RCTI – iNews terhadap uu Penyiaran.

Dalam gugatan itu, kedua stasiun TV nasional ini menuntut perluasan definisi penyiaraan, yang mana menargetkan media soal seperti YouTube, Facebook, Instagram sampai Netflix.

Dalam tuntutannya RCTI dan Inews memohon siaran platform media sosial itu dikategorikan sebagai penyiaran, dan nantinya jika dikabulkan Mahkamah, siaran di Instagram atau YouTube harus mengantongi izin gitu.

Masyarakat mengaggap bahwa jika gugatan itu sampai dikabulkan, maka kebebasan berekspresi lewat siaran live streaming bakal terancam .

Hal ini pun sampai memunculkan petisi online yang mengajak warganet untuuk menolak guagtan RCTI dan meminta publik dibiarkan saja siaran di media sosial.

BACA JUGA: Petisi Menolak Gugatan RCTI, Kamu Ikut yang Mana Nih? 

1. Soal Moral Bangsa

Niat Judicial Review yang dilakukan oleh RCTI-iNews sendiri adalah untuk menegakan kesetaraan dan tanggung jawab moral bangsa. Pernyataan tentang moral bangsa membuat banyak netizen yang kritis bahkan cenderung sinis.

Pertanyaan besarnya adalah sejauhmana RCTI dan iNews sudah menegakkan moral bangsa 100%? Menurut KBBI, moral memiliki arti sebagai ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya.

Lantas, apakah masyarakan ataupun wargaanet yang melakukan siaran livestrreaming masuk dlam kategori perusak moral dan lagi seberapa bobrok moral kita sehingga RCTI merasa terpanggil buat menyelamatkan masa depan umat manusia?

Coba cari literasi Sejak kapan tv menjadi penjaga moral bangsa?

2. Soal Nasionalisme yang Ganjil

Selain Menggunakan dalih moralitas, isu nasionalisme pun turut disuarakan terkait soal gugatan RCTI terhadap UU penyiaran.

Yup Putri pemilik MNC Group, Hary Tanoesoedibjo dan Liliana bernama Jessica Tanoesoedibjo mengkhawatirkan jika media dikendalikan oleh luar negri termasuk palatfrom luar negri maka itu akan menjadi masalah nasionalisme.

Sayangnya, sorotan Jessica Tanoe yang mengangkat nasionalisme ekonomi ditanggapi para pengkritik yang  membalasnya dalam konteks nasionalisme nativis. Yang intinya kok Mbak Jessica bahas nasionalisme pake bahasa inggris sih kenapa nggak bahasa Indonesia

Dalam konteks kekinian, sebuah perusahaan yang memiliki kepedulian nasional adalah sebuah perusahaa yang membantu dan membawa lompatan kemakmuran bagi masyarakat.

Apakah RCTI sudah berperan dalam memakmurkan masyarakat seperti yang dilakukan berbagai media social yangi meskipun milik luar negri namun nyatanya mempantu masyarakat yang berjualan ataupun berkreasi lantaran terdampak ekonomi terlebih di masa pandemi saat ini?

BACA JUGA: Bau Disrupsi dan Gugatan RCTI Terhadap UU Penyiaran

3. Bau Proteksionisme

Ada aroma proteksionisme dalam Gugatan RCti terhadap UU Penyiaran dengan membawa isu nasionalisme dan moralitas.

RCTI dan iNews meminta perlindungan pemerintah dari media digital asing yang disruptif. Terlebih lagi, permintaan ini dilakukan atas nama nasionalisme dan regulasi demi kepentingan moral publik.

Hal ini sebenrnya bukan selubung baru. Bisnis-bisnis besar di berbagai penjuru dunia sudah menggunakan trik ini berkali-kali. Mereka ingin “penjaminan segmen pasar” oleh negara lewat regulasi yang meningkatkan barrier and cost of entry.

BACA JUGA: Hentikan! Terlalu Banyak Menonton TV Punya Efek Buruk Buat Memori Otak 

4. Masyarakat Tak Bisa Lagi Didikte Soal Selera

Gugatan RCTI terhadap UU Penyiaran seakan menutupi peran televisi konvensional yyang saat ini telah tergantikan oleh layanan streaming internet dan media sosial.

Coba deh tanya para milenial yang kini sangat akrab dengan smartphone mereka atau laptop, pilih TV Atau layanan livestreaming? yang jelas mereka bakal enggan menonton TV. Sebab di media lain seperti media social mereka dapat mendapatkan hiburan yang sesuai dengan passion mereka.

(Foto: Netflix)

Selain itu sebagian masyarakat Indonesia yang meninggalkan TV tidak lepas dari menurunnya kualitas program-program TV yang ada di Indonesia saat ini.

Bayangkan jika kamu adalah seorang cowok rocker atau gamers sejati, apa mungkin mungkin mau menonton tayangan sineron tentang kisah tukang ojek atau tukang bubur?.

Pun demikian bila kamu penggemar musik rock apa mau menonton sinetron hits dengan back sound tembaang mendayu-dayu?

Era digital yang serba instan membuat televisi harus cepat beradaptasi dengan masyarakat yang semakin cerdas dan butuh konten-konten berkualitas. agar tidak punah terlindas. (Sbg/Rig)

Comments