(Foto: Pexels)

Sabigaju.com – Saat ini bisa dibilang tren rokok elektrik atau Vape sedang dalam puncaknya. Penggunaan vape atau rokok elektrik tengah diklaim sebagai pengganti dari rokok. Bahkan ada juga yang beranggapan kalau vaping tidak membahayakan.

Namun, kini sejumlah negara dengan tegas menetapkan larngan penjualan Vape Hingga saat ini, lebih dari 20 negara – kebanyakan di Amerika Selatan, Timur Tengah dan Asia Tenggara telah melarang penjualan produk-produk rokok elektrik.

Beberapa negara juga telah melarang kepemilikan produk-produk ini. Negara Thailand memiliki undang-undang yang paling ketat. Sementara negara-negara seperti Australia, Kanada dan Norwegia telah melakukan banyak pembatasan.

Dan baru-baru ini pemerintah India menyetujui untuk melarang produksi, impor maupun penjualan rokok elektrik.

BACA JUGA: Berniat Ingin Berhenti Merokok? Coba Cara Ini!

Bahaya Vape

Kandungan vape Beberapa kandungan vape adalah propilen glycol, gliserin nabati. Propilen glycol merupakan alkohol hambar tak berwarna, tak berbau yang bisa menyebabkan iritasi pada mata, saluran nafas, pusing dan kantuk.

Seharusnya manusia memerlukan udara normal untuk dihirup. Adapun timbulnya asap pada vape bisa menjadikan seseorang menghirup zat tidak normal ke dalam tubuhnya.

Pusat Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat mengumumkan ada sekitar 530 kasus cedera paru terkait penggunaan vape. Kasus tersebut juga cenderung mengalami kenaikan dibandingkan di minggu sebelumnya, yang menyebabkan 7 orang meninggal dunia.

mayoritas mereka yang terkena penyakit paru-paru misterius tersebut memiliki usia rata-rata 19 tahun dimana usia tersebut merupaKan pasar terbesar AS untuk pengguna vape. Kasus ini kemudian mendorong AS untuk melarang semua jenis rokok elektrik.

BACA JUGA: Menunggu Perpisahan Bulutangkis dan Rokok

Vape di Indonesia

Indonesia sendiri saat ini merupakan salah satu negara paling bebas merokok elektrik. Di berbagai penjuru kota Jakarta misalnya dapat kamu temui berbagai kedai yang menjual alat hisap maupun liquid vape.

Tekanan berbagai lembaga pun mulai banyak yang menuntut agar larangan vape diberlkukan segera di negeri ini sebelum jtuh korban.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tegas melarang masyarakat mengonsumsi rokok elektrik (vape) yang konon sebagai alat untuk berhenti merokok (konvensional). IDI juga memastikan vape justru mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa rokok elektrik tidak memiliki izin edar dari BPOM RI. Mereka juga meminta pemerintah segera mengambil sikap yang jelas terkait peredaran produk rokok alternatif ini.

BACA JUGA: Waspada Penggunaan Vape, Resiko Meledak Hingga Dampak Cairannya 

BPOM bahkan telah melakukan focus group discussion dan kajian terkait bahaya dan kandungan dalam rokok elektrik. Mereka juga telah memberikan hasil dari kajian berupa policy paper tersebut, kepada kementerian ke Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perdagangan yang dirasa lebih berhak membuat kebijakan dan regulasi.

Selain itu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) merekomendasikan pemerintah untuk melarang peredaran rokok elektrik (vape). Pasalnya, tak ada kategori yang jelas atas alat tersebut.

Desakan keras juga datang dari Komisi Nasional Pengendalian Tembakaumenilai sebaiknya Pemerintah Indonesia melarang rokok elektronik atau vape sebelum jatuh korban jiwa.

Mereka terkejut dengan informasi mengenai izin beredar rokok elektronik merk tertentu oleh Kementerian Perdagangan.(Sbg/Rig)

Comments