Sabigaju.com – Beberapa hari terakhir,  Sukmawati mencuri perhatian lantaran puisi yang dibacakannya dalam ajang Indonesia Fashion Week. Puisi tersebut menjadi kontroversi karena isinya diduga berisi tentang isu SARA. Puisi memang bagian dari karya seni olah kata.  Namun,  pada perkembangannya puisi bergeser menjadi perwujudan imajinasi dan emosi manusia. Lebih lanjut lagi, puisi bisa “bercerita” tentang ide atau perasaan, baik soal dalam diri maupun lingkungannya, dan mengajak orang untuk ikut merasakannya.

Hal seperti itu yang nampaknya menjadi fokus Sukmawati saat membuat puisi berjudul “Ibu Indonesia”. Berbekal semangat untuk mengingatkan kembali “kecantikan” Indonesia kepada khalayak, Sukmawati menuliskan puisinya dan membacakannya saat Indonesia Fashion Week 2018. Puisi tersebut dibacanya tepat pada pagelaran 29 Tahun Anne Avantie Berkarya yang berlangsung di Jakarta Convention Center.

Naas, puisinya menuai kontroversi. Sebagian masyarakat Indonesia beramai-ramai melaporkan Sukmawati ke polisi. Pelaporan itu didasarkan pada isi puisi yang menyinggung tentang syariat Islam, azan, dan cadar. Dilansir dari Detik.com, Kapitra Ampera selaku pengurus Persaudaraan Alumni 212 menduga kuat ada unsur mendiskreditkan agama dalam puisi “Ibu Indonesia”.

Kasus di atas adalah sebagian kecil dari dinamika puisi dan makna yang dikandungnya. Bahkan, sejarah sebuah negara atau bangsa juga tidak luput dari perjuangan para penyair, dan tentu saja puisi yang mereka buat. Sepanjang sejarah Indonesia sudah mencatat be berapa puisi yang menyentil bahkan kontroversi.  Berikut ini beberapa puisi yang dimaksud:

Puisi untuk Perjuangan Indonesia

Tahun 1920, Indonesia sedang berada di titik terendahnya, yaitu masa penjajahan. Namun, dari periode tersebut, periode puisi modern Indonesia lahir. Jurnal “Sejarah Puisi Indonesia Modern: Sebuah Ikhtisar” karya Rachmat Djoko Pradopo menjelaskan sajak pertama yang berjudul “Tanah Air” di tahun 1920 karangan Muhammad Yamin menjadi penanda lahirnya periode puisi modern di Indonesia. Selanjutnya, puisi-puisi yang terbit setelah itu tidak lepas dari semangat kemerdekaan. Tercatat beberapa kumpulan puisi yang menyerukan tentang kemerdekaan ada Percikan Permenungkan (1926) karya Rustam Effendi, Puspa Mega (1927) karya Sanusi Pane, dan Tanah Air (1922) serta Indonesia Tumpah Darahku (1929) karya M.Yamin.

Selepas kemerdekaan pun, puisi tetap menjadi salah satu agen perubahan. Salah satu penyair yang kontroversial ada di era Orde Baru, bernama Wiji Thukul. Sastrawan dan aktivis Partai Rakyat Demokratik ini dituduh subversif lantaran puisinya dinilai terlalu kritis terhadap pemerintahan Orde Baru.

Puisi-puisi yang ditulis oleh Wiji Thukul memang isinya sarat akan kehidupan rakyat kecil di bawah pemerintahan Orde Baru yang otoriter. Lewat bahasanya yang sederhana dan mudah dimengerti membuat Wiji Thukul mendapat banyak sekali dukungan dari rakyat luas.

Selanjutnya, puisi Wiji Thukul juga mampu mengobarkan semangat publik. Ada tiga sajak yang sering diteriakkan dalam setiap aksi, yaitu Peringatan, Sajak Suara, serta Bunga dan Tembok. Saat menerbitkan ketiga sajak itu, Wiji Thukul memakai nama samaran Manus Amici untuk menghindari pembatasan dari pemerintah Orde Baru.

Lantaran puisinya yang terlalu kritis, nama Wiji Thukul masuk ke dalam daftar pencarian Kopassus Mawar. Semenjak bulan Juli 1996, Wiji Thukul kerap berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Pun begitu, Wiji Thukul tetap menulis puisi yang pro demokrasi, salah satunya berjudul Para Jendral Marah-marah.

Pada akhirnya, 27 Juli 1998 Wiji Thukul ditemukan oleh Kopassus Mawar. Dirinya dibawa dan belum ditemukan hingga saat ini.

Puisi untuk Dunia

Perang Dunia I memberikan pengalaman buruk bagi negara-negara pesertanya. Baik kubu pemenang atau kubu kalah sama-sama mengalami kerugian materi dan mental yang sangat besar. Kengerian tersebut berhasil direkam oleh T.S. Elliot. Lewat puisi berjudul “The Waste Land” (1922), Elliot mencoba mendobrak pakem-pakem puisi yang ada saat itu. Elliot mengabaikan segala bentuk rima dan meter yang ada dan menyasar ke tema yang tidak biasa kala itu; kesedihan. Hasilnya, puisi tersebut mampu menggambarkan secara mengerikan kehancuran mental masyarakat barat akibat Perang Dunia I. Elliot menggambarkan masyarakat barat kala itu sebagai seseorang yang krisis kepercayaan dan kebudayaan yang hancur bersama Perang Dunia I.

Pada akhirnya, “The Waste Land” menjadi salah satu puisi terbaik dalam dunia sastra. Dilansir dari alternet.org, puisi tersebut bahkan digadang-gadang sebagai puisi paling berpengaruh di abad 20 lantaran isinya yang sarat makna dan tekniknya yang tidak biasa.

Pun begitu, puisi tidak selalu soal kritik. Puisi juga bisa memperkuat salah satu identitas bangsa, yaitu bahasa. Sekitar tahun 1600-an atau masa Renaisans, Bahasa Inggris sudah sering dipakai oleh masyarakat luas. Namun, absennya kamus membuat tidak adanya standar tentang pengejaan, tata bahasa, dan tata ucap. Akibatnya, tidak ada standar yang jelas mengenai definisi dari kata-kata yang sudah ada. Terlebih lagi, banyak kata yang ada sekarang tidak ada pada masa itu.

William Shakespeare mungkin secara tidak sengaja memberikan solusi untuk permasalahan bahasa tersebut dalam puisi yang dia mainkan dalam Hamlet. Secara sepihak, Shakespeare membuat, mengurai, serta menyusun kata-kata Bahasa Inggris menjadi baku. Selain itu, Shakespeare juga membuat lebih dari 1700 kata baru dan frasa yang tak terhitung jumlahnya. Beberapa kata yang ia buat adalah barefaced, besmirch, buzzer, excitement, piece of work, flesh and blood, dan lain-lain.

Pada akhirnya, puisi tetaplah karya seni. Ia adalah wujud nyata dari imajinasi penyair terhadap realita yang dirasakan. Lantaran berasal dari imajinasi personal, bukan hal yang tidak mungkin jika pembaca puisi bisa mendapatkan makna berbeda sehabis membaca. Namun, dari kasus Sukmawati, Wiji Thukul, T.S. Elliot, dan William Shakespeare, setidaknya ada satu kesimpulan yang bisa diambil. Sastra, terutama puisi, bisa memberikan gejolak di masyarakat, terlepas gejolak tersebut berujung baik atau buruk. (sbg/Erny)

Comments