Sabigaju.com – Kecaman dan cercaan datang bertubi-tubi kepada sosok anggota parlemen negara Malaysia, Shabudin Yahaya dari koalisi Barisan Nasional.

Anggota Parlemen Malaysia tersebut menyarankan agar anak yang menjadi korban perkosaan dinikahkan dengan pemerkosanya.
Hal itu disampaikan saat ia berbicara dalam debat parlemen saat membahas tentang rancangan undang-undang kekerasan seksual terhadap anak pada Selasa (4/4), Shabudin mengatakan bahwa meskipun pemerkosaan dianggap sebagai tindak pidana, pemerkosa dan korban harus diberi kesempatan kedua untuk mengubah lembaran baru.

“Mungkin melalui pernikahan mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih sehat, lebih baik dan orang yang melakukan pemerkosaan bukan berarti memiliki masa depan yang suram. Setidaknya korban akan memiliki suami dan ini dapat menjadi solusi untuk masalah sosial yang semakin besar,” kata Shahbudin.

Tak hanya itu, Shahbudin juga mengatakan beberapa anak-anak secara fisik dan rohani siap untuk menikah.

"Beberapa gadis yang berusia antara 12 dan 15 tahun memiliki tubuh seperti wanita 18 tahun," katanya, mengutip pengalamannya sebagai mantan hakim di pengadilan Syariah.kata Shabudin sebagaimana dilansir laman The Star, belum lama ini.

Shabudin Yahaya (Youtube)

Kekecewaan pun datang dari seorang aktivis ,Sharmila Sekaran, direktur LSM Suara Anak Malaysia yang juga turut hadir dalam pembahasan tersebut. Ia mengatakan bahwa sebagian besar orang di sana marah dengan pernyataan Shabudin. Selain peserta sidang, komentar Shabudin tersebut juga mengundang kecaman luas dan kemarahan dari banyak orang Malaysia.Netizen Malaysia pun berang mereka beramai-ramai menyebut Shabudin bodoh. bahkan beberapa juga mengunggah meme di Facebook, seraya mengutuk kata-katanya.

Dilansir dari laman BBC Sharmila Sekaran mengatakan pernyataan anggota parlemen tersebut mencerminkan "tren mengkhawatirkan" bagi generasi muda perempuan.

"Ada politikus seperti dia, mengeluarkan pernyataan-pernyataan berbahaya dan pandangan kolot. Hal ini hanya memperkuat pandangan bahwa pemerkosaan tidak masalah," kata Sekaran kepada BBC News.

Ucapan Shabudin juga mendapat sorotan tajam dari seorang pejabat senior Malaysia, Menteri Kabinet, Datuk Seri Abdul Rahman Dahlan, yang kecewa dengan pernyataan Shabudin tersebut.

"Setiap anak berhak untuk hidup, bermimpi, dan bersenang-senang. Jika orang tua tidak dapat memberi masa kecil yang layak bagi anak-anak mereka, menjadi tanggung jawab pemerintah demi melindungi kepentingan terbaik anak-anak Malaysia," kata Abdul Rahman dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Eleven Myanmar.

Ditambahkan pula oleh Abdul Rahman yang mengatakan bahwa Pasal 375 (g) Hukum Pidana Malaysia menyatakan bahwa setiap pria yang berhubungan seks dengan seorang gadis di bawah usia 16 tahun dianggap telah memerkosa, terlepas apakah hubungan itu berdasarkan suka sama suka.

"Hal ini dengan catatan bahwa saya percaya hukum yang berlaku untuk melindungi anak-anak kita, terutama gadis di bawah umur," kata Abdul Rahman. Karena itu, tidak dapat diterima di abad ke-21 ini, bila kita menyarankan bahwa seorang pemerkosa yang seharusnya dituntut bisa lepas tanggung jawab hukum hanya dengan menikahi korbannya,” tambahnya.

Menanggapi riuhnya tanggapan maupun cercaan dari publik Malaysia, Shabudin Yahya berdalih bahwa transkrip pidatonya telah dipotong dan ditampilkan di luar konteks oleh media di Malaysia. (Sbg/Rig)

Comments