Sabigaju.com – Belum lama ini sebuah video yang menunjukan dua orang memakai hazmat suit (alat pelindung diri) yang biasa dipakai tenaga medis, sedang berbelanja ke supermarket di Gandaria City viral di media sosial.

Kedua orang itu mungkin memakai pakaian tersebut untuk melindungi diri dari virus.

Namun, Kejadian ini juga ikut mendapatkan Kritikan keras, alias public shaming yang ditujukan kepada kedua orang yang dianggap egois, mengingat saat ini para tenaga medis di seluruh daerah sedang mengeluhkan kekurangan APD.

Selebriti Kena Public Shaming

Sebelum peristiwa itu viral, mantan model dunia  Naomi Campbell  juga kedapatan   membalut tubuhnya dengan jas hazmat saat akan melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat.

Campbell bakan memamerkan hal itu  lewat postingan Instagram pribadinya.

Safety First NEXT LEVEL,” tulis Naomi Campbell, menyiratkan bahwa ia sadar telah mengambil tindakan ekstra agar tidak tertular virus Corona.

Melihat penampilan Naomi Campbell, netizen pun memberikan respon beragam di kolom komentar. Tak sedikit netizen kompak menyampaikan public shaming untuk tingkah Naomi. yang dinilai  kelewat lebay.

Yup belakangan ini public shaming terhadap orang yang tidak patuh pada aturan tetap tinggal di rumah juga beredar di media sosial.

Salah satunya lewat tagar #COVIDIOTS yang ditujukan pada mereka yang masih membuat acara kumpul-kumpul.

Apakah Public Shaming efektif untuk membuat orang jera?

Sejumlah pakar menilai dalam wabah seperti sekarang, upaya public shaming bisa jadi cara efektif untuk membuat norma sosial yang baru.

“Shaming sebaiknya tidak dipakai untuk masalah yang bukan jadi perhatian umum. Namun, virus corona adalah masalah yang menimpa kita semua, sehingga semua orang diminta berkorban,” kata profesor studi lingkungan Jennifer Jacquet.

Menurutnya, upaya public shaming ini seharusnya efektif  agar orang segan melanggar aturan pembatasan jarak atau menimbun barang di saat sulit.

“Saya berharap upaya mempermalukan ini bisa menjadi alat yang bermanfaat untuk kepentingan sosial,” kata Jacquet yang pernah menulis buku berjudul Is Shame Necessary? New Uses for an Old Tool,  tentang penggunaan aksi mempermalukan orang sebagai cara untuk mendorong kerjasama.

Pandangan berbeda justru datang  dari Ahli psikologi sosial di University of Montreal, Daniel Sznycer. Dia menilai tindakan public shaming pada dasarnya merusak reputasi seseorang dan norma sosial.

Menurutnya orang bisa merasa, lalu malu melakukannya dan menghentikan atau ikut patuh.Masalahnya, hal itu bisa jadi hanya dilakukan di depan umum, tetapi akan diulangi ketika tidak ada orang lain yang melihat. (Sbg/Rig)

Comments