Kelompok Preman Peaky Blinders
(Foto: instagram.com/peakyblindersofficial)

Sabigaju.com – Belakangan ini publik dan waarga Jakarta ramai membicarakan rencana Pihak Kepolisian untuk melibatkan preman untuk membantu TNI dan Polri dalam menertibkan warga agar mematuhi protokol kesehatan.

Polda Metro jaya bahkan berencana menggandeng 18 komunitas dan ormas di kawasan pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat untuk menggerakkan anggota mereka sebagai penegak disiplin protokol kesehatan. Salah satu tugasnya, membantu pengawasan pemakaian masker.

Polemik perekrutan anggota ormas yang kerap diidentikkan dengan preman, berawal dari pernyataan Wakil Kepala Polri, Komjen Gatot Eddy Pramono, mengenai pelibatan yang ia sebut sebagai “jeger” dalam pengawasan protokol kesehatan di pasar.

Belakangan, dalam rapat kerja komisi III DPR pada hari Senin 14 September 2020, Wakapolri meluruskan pernyataannya, dan membantah polri telah merekrut preman.

Komjen Gatot Eddy menjelaskan, istilah “jeger” yang ia maksud adalah pihak yang dituakan dalam komunitas informal di pasar. Mereka dirangkul untuk membantu penegakan protokol kesehatan, dan bukan untuk menegakkan perda.

BACA JUGA: Masa Resesi Bikin Para Mafia Berjaya, Mesti Waspada Nih

Evolusi  Preman di Negeri ini

Dalam hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Ian Douglas Wilson yang dibukukan dengan judul Politik Jatah Preman, Ormas dan Kuasa Jalanan di Indonesia Pasca Orde Baru, terbitan tahun 2018, keberadaan preman, geng ataupun dan milisi telah menjadi ciri yang melekat pada kehidupan sosial-politik di Indonesia. Bisa dibilang kalau Preman nggak pernah pensiun.

Selama masa Orde Baru, mereka digunakan sebagai alat untuk menegakkan tertib sosial versi negara dan melanggengkan kekuasaan rezim.

Proses demokratisasi pasca 1998 pun bahkan tidak bisa melenyapnkan kelompok ini. Mereka beradaptasi dan mencari celah dalam konteks politik yang berubah.

Misalnya hadirnya kelompok-kelompok yang menguatkan unsur etnisitas lewat berbagai ormas jalanan dengan klaim merepresentasikan kelompok sosial-ekonomi yang terpinggir.

Wilson menyuguhkan analisis komprehensif mengenai hubungan yang berubah antara kelompok-kelompok ini dengan pihak berwenang dan kekuasaan politik pasca Orde Baru, dalam mengonsolidasi kuasa kewilayahan mereka di tingkat lokal, kelompok-kelompok ini pada taraf tertentu berhasil merebut legitimasi.

Wilson menggambarkan kalau kelompok preman pun berhasil menjadi perantara antara politik informal jalanan dengan politik formal parlemen.

Nah, Wilson juga mengingatkan nih, bagaimanapara kelompok preman  memanfaatkan posisi ini untuk meningkatkan daya tawar mereka, dan bagaimana dunia politik formal memanfaatkan jasa mereka akan sangat memengaruhi masa depan kehidupan sosial-politik di Indonesia.

BACA JUGA: Dear Jakartans, Kita Stay At Home Dulu Yah!

Gimana Mau Pensiun? Wong Sampai Dibikinin Film

Kolaborasi pemerintah dan preman sendiri pernah dituangkan dengan apik lewat sejumlah film maupun series berkelas.

Dalam Serial Peaky Blinders misalnya dikisahkan bagaimana  pemerintah Inggris  melirik dan berjabat tangan di bawah meja dengan pimpinan genk preman Peaky Blinders, Thomas Shelby.

Mereka bahkan berkolaborasi dengan kelam tangan para member Peaky Bliders  untuk “membersihkan” kota dari gangguan kelompok-kelompok  yang tidak diinginkan pemerintah

Dengan begitu pemerintah nggak akan  ngungkit-ngungkit bisnis kotor para preman gypsy tersebut.

BACA JUGA: Jakarta dalam Kondisi Mengkhawatirkan, Jaga Imunitas Tubuh!

Dari Italia Sampai Asia

Cerita kelompok preman asal Sisilia, Italia alias Mafia yang berbisnis di Amerika atau di negerinya sendiri sudah banyak difilmkan.

Sebut saja .Gotti, Boss of Bosses, American Gangster, Bonanno A Godfather’s Story, Donnie Brasco, Mobster dan masih banyak lagi.

Lewat film-film itu Kita pun dapat mengetahui kejam dan kotornya kehidupan kelompok  tersebut serta kolaborasi antara jasa, suap hingga urusan sogok menyogok antara pihak pemerintah dengan mereka.

Kelompok preman asal Italia itu sampai begitu melekat dalam budaya pop di negeri Paman sam itu hingga bisa kamu nikmati lewat buku, reality show, sampai video game.

Benua Asia sendiri nggak lepas dari cengkeraman kelompok preman kejam.

Dalam Film Shinjuku Incident misalnya. Para imigran China di kota Shinjuku Jepang yang harus berhadapan dengan Yakuza, kriminal Jepang yang terus melegenda hingga hari ini.

Jadi nggak salah dong kalau preman nggak pernah pensiun.  banyak kerjaan soalnya men sampe dibikinin film segala! (Sbg/Rig)

Comments