Sabigaju.com – Bahasa adalah produk budaya yang dinamis. Setiap budaya berkembang, bisa dipastikan juga bahasa akan ikut berkembang. Semakin banyak ekspresi manusia, semakin banyak pula bahasa baru yang lahir. Hal ini yang disadari oleh kamus Oxford. Mengusung kata “youthquake” sebagai kata yang paling populer tahun 2017, kamus Oxford memasukkan lebih dari 600 kata ke dalam kamus mereka dalam pembaruan kuartal terakhir.

Dari 600 kata baru dalam kamus Oxford, tidak semuanya bisa diartikan “kata baru” secara harfiah. Selain “youthquake”, “woke” dan “post-truth” juga masuk ke dalam kamus Oxford.

Youthquake

“Youthquake” menurut kamus Oxford bisa diartikan sebagai perubahan budaya, politik, atau sosial yang signifikan yang timbul dari tindakan atau pengaruh kaum muda. Alasan pemilihan youthquake sebagai kata terpopuler 2017 didasarkan pada frekuensi penggunaannya. Kata “youthquake” lima kali lebih sering digunakan di tahun 2017 dibanding 2016. Hal tersebut bisa terjadi karena keterlibatan anak muda di Inggris pada 2017 lebih tinggi dibanding dekade sebelumya.

Woke

“Woke” yang berarti bangun, mendapat perluasan makna. Kata “woke” sering digunakan oleh kelompok Black Lives Matter dalam slogan “Stay Woke” untuk menggaungkan semangat anti rasisme terhadap kulit hitam. Dalam slogan “Stay Woke” tersebut, maknanya diperluas pada kesadaran terus-menerus tentang isu keadilan sosial.

Post-Truth

“Post-truth” yang menjadi kata terpopuler tahun 2016 juga masuk ke dalam kamus Oxford. Kata tersebut diartikan berhubungan dengan atau menunjukkan keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik atau debat politik dibandingkan emosi dan kepercayaan diri. Di masa “post-truth” ini kampanye ala Donald Trump bisa berkembang. Meskipun pemanasan global adalah fakta, tapi Donad Trump menyangkalnya sebagai sebuah hoax. Pada akhirnya, para pembela rezimnya lebih memilih pendapat Trump lantaran kepercayaan pribadi dibanding fakta yang ada.

Antifa

“Antifa” juga muncul di kamus Oxford. Kata yang berasal dari anti-fasis ini didasari pada sebuag gerakan yang diisi oleh orang-orang golongan kiri untuk melawan rang-orang golongan kanan (yang cenderung rasis) di AS dan Eropa. Golongan kiri bersama golongan liberal sering melakukan demo untuk menghadang kebangkitan golongan ideologis yang sering berujung bentrok.

Merujuk kamus Oxford, “antifa” sendiri berasal dari kata “antifaschistisch” yang merujuk pada anti Partai Nazi. Saat Perang Dingin, “antifasis” masih sering dipakai di Jerman Timur yang masuk blok komunis. Sehabis tembok Berlin runtuh, “antifasis” masih dipakai aktivis kiri dan dunia untuk melawan nasionalis aktivis kanan.

Jika dilihat di pembaruan kamus Oxford sekarang, kata-kata yang muncul didasarkan pada fenomena politik dan anak muda yang ada. Tercatat ada kata “youthquake”, “woke”, “antifa”, “tennis mom”, “tennis dad”, serta masih banyak lagi yang lain. (sbg/Erny)

Comments