Physical Distancing
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Masyarakat kini tengah ramai membahas istilah physical distancing alias menjaga jarak fisik sebagai pengganti istilah pembatasan sosial alias social distancing lantaran dianggap kurang bagus oleh pemerintah.

Pemerintah menerapkan physical distancing. Pemerintah ingin agar kontak dengan orang lain diminimalisir. Kemudian, jika ada pertemuan, masyarakat diminta menjaga jarak hingga satu meter serta rajin membersihkan diri sesuai ketentuan pemerintah.

Pemerintah juga akan menindak tegas orang-orang yang tidak menerapkan physical distancing. Kini, TNI-Polri beserta aparat daerah akan membubarkan masyarakat yang berkumpul demi mencegah penyebaran Covid-19.

BACA JUGA: Efektifkah Social Distancing dalam Upaya Pencegahan Corona?

Menjaga Jarak Fisik Bukan Jarak Sosial

Anjuran physical distancing muncul pertama kali dari WHO lantaran kata social distancing yang diterjemahkan sebagai pembatasan sosial, tidak tepat bila digunakan dalam menggambarkan upaya penduduk dunia menghentikan penyebaran corona.

WHO merekomendasikan penggunaan frasa “pembatasan fisik” daripada “pembatasan sosial” untuk mendorong masyarakat agar memaksimalkan kemajuan teknologi agar tetap bisa terhubung dan berinteraksi. Meskipun, sementara waktu tak bisa bertatap

WHO lebih memilih untuk menggunakan istilah physical distancing ketimbang social distancing. Jarak Fisik saja yang harus dijaga, bukan hati dan kemanusiaan.

BACA JUGA: Ngumpul Sama Teman, Ide Buruk Ditengah Pandemi COVID-19

lebih dari itu Kita memang harus menjaga jarak phisik, tetapi hal ini bukan berarti kita harus menjauhkan diri secara sosial dan bahkan berperilaku rasis.

Hal ini harus diperhatikan demi menjaga kesehatan mental semua orang.

WHO menegaskan, tindakan menjaga jarak fisik dan mengisolasi diri jika sedang sakit memang diperlukan untuk meredam penyebaran COVID-19, namun hal itu bukan berarti lantas menjadikan seseorang menjadi terisolasi secara sosial.

BACA JUGA: Hubungan Seks di Saat Social Distancing

Jaga Jarak Fisik Namun, Dekatkan  Hati

Dalam physical distancing, kita terpisah secara fisik. Aturannya kalau dalam kerumunanan dan keramaian, kita menjaga jarak sekitar satu meter.

Namun jarak yang tercipta itu adalah jarak fisik, tetapi kita tidak terpisah secara sosial. Memang secara fisik kita berpisah, tetapi secara sosial kita masih bisa terhubung .

Situasi terhubung sendiri bisa tanpa sentuhan, tetapi lewat bahasa tubuh yang bisa dipahami antara satu sama lain.

Di rumah pun kita menjaga jarak secara fisik, tetapi kita masih dalam satu komunitas yang sama.

Menjaga jarak fisik  itu tidak menutup diri kita untuk berinteraksi dalam satu rumah. Sembari menjaga jarak secara fisik, kita masih membangun relasi sosial.

Kita bisa kok menerapkan physical distancing namun dekatkan hati dan pikiran, bersama kita bisa menghadapi pandemi COVID-19. (Sbg/Rig)

Comments