anxiety

Sabigaju.com – Beban hidup dari pekerjaan, masalah dengan pasangan, masalah ekonomi, bahkan masalah keluarga seringkali menghadapkan Anda pada situasi yang tidak menyenangkan. Secara otomatis, diri Anda pun bereaksi, salah satunya melalui stres.

Stres yang terjadi berlarut-larut memungkinkan Anda menghadapi situasi yang terlihat menakutkan hingga membuat Anda merasa mudah lelah, cemas, dan menyengsarakan. Kondisi stres berat yang tidak teratasi bisa memicu depresi dan gangguan kecemasan atau anxiety. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk tahu perbedaan stres, depresi, dan anxiety tersebut.

Berkenalan dengan Stres

Pada situasi yang penuh tekanan, tubuh Anda akan merespon untuk pertahanan diri terhadap kondisi tersebut secara alami. Bentuk respon ini yang dikenal dengan istilah stres. Walaupun kondisi stres tidak disukai, namun sesungguhnya stres membantu kita untuk hidup dan tetap aman.

Jadi saat Anda dihadapkan pada situasi yang memicu stres, tubuh dengan sendirinya akan menangkap sinyal tersebut sebagai ancaman. Kemudian otak akan memproduksi sejumlah hormon dan senyawa kimia seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin untuk melindungi Anda. Hormon noepinefrin ini memicu reaksi “fight or flight” dalam tubuh.

Stres tidak selalu memberi efek negatif karena pada kondisi tertentu, dia akan memberi dorongon positif pada diri Anda agar bisa merespon sumber tekanan secara efektif. Namun, seringkali stres memberi energi negatif karena otak dibanjiri oleh ketiga hormon yang diproduksi tersebut.

Hal ini menyebabkan Anda merasa cemas, kalut, dan gelisah. Apalagi aliran darah akan menuju bagian tubuh lain untuk merespon stres tersebut secara fisik. Akibatnya, fungsi otak menurun karena darah yang mengalir ke bagian tubuh lain lebih banyak. Oleh karena itu, saat Anda mengalami stres Anda akan kesulitan berpikir dengan jernih.

Salah satu obat alami untuk mengatasi stres ini adalah tidur. Pasalnya saat tidur tubuh Anda akan melambat aktivitasnya sehingga tubuh memiliki waktu untuk melakukan perbaikan secara alami.

Apa itu Depresi?

Stres yang berkepanjangan dan tidak teratasi bisa memicu penyakit mental, depresi. Depresi umumnya ditandai dengan memburuknya suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, dan tingkat konsentrasi yang berkurang.

Penting untuk diketahui, depresi itu berbeda dengan perasaan sedih yang bisa membaik seiring waktu. Walaupun beberapa kasus depresi diawali oleh perasaan sedih dan berduka, namun gejala depresi lebih intens dan membuat kewalahan. Pada beberapa kasus, depresi berlangsung selama dua minggu atau lebih.

Efek depresi bisa menyebabkan perubahan drastis pada suasana hati yang berakhir pada timbulnya perasaan nelangsa, putus asa, dan level terberat yaitu, membuat Anda tidak ingin melanjutkan hidup. Dengan tekanan hidup seperti saat ini, kemungkinan seseorang mengalami depresi jauh lebih tinggi. Setidaknya satu dari lima orang di dunia pernah mengalami depresi pada tahan tertentu hidupnya.

Gangguan Kecemasan atau Anxiety

Lalu, apa perbedaan stres, depresi, dan anxiety? Anxiety atau kecemasan umumnya adalah reaksi Anda terhadap stres. Beberapa ciri anxiety adalah timbulnya sensasi perut mulas, jantung berdegup lebih kencang dari biasanya, kepala pening, keringat dingin, dan napas terburu-buru.

Biasanya hal-hal tersebut akan menghilang dengan sendirinya setelah Anda berhasil menyelesaikan pekerjaan atau situasi yang menjadi sumber stres. Saat perasaan cemas itu berangsur hilang dengan sendirinya berarti tingkat psikologis yang Anda alami masih cukup “aman” sehingga tubuh bisa merespon dan menangani situasi tersebut.

Anxiety dalam level bahaya adalah bila Anda terus-terusan dilanda ketakutan yang tidak masuk akal dan mengganggap berbagai hal sebagai ancaman besar. Padahal hal-hal tersebut bisa jadi tidak memicu ancaman sebesar yang ada dalam pikiran Anda. Pada kondisi seperti itu, Anda sebaiknya berkonsultasi kepada dokter untuk menentukan langkah lanjutan guna mengatasi anxiety.

Berdasarkan penjelasan ketiga masalah psikologis tersebut memang ada ciri yang mirip. Namun yang jelas bila Anda mengalami stres dan anxiety, Anda masih tahu masalah apa yang dihadapi dan bagaimana cara mengatasinya. Walaupun sumber stres dan anxiety mungkin acak. Lalu, membuat skala prioritas untuk menyelesaikan persoalan yang ada bisa menjadi salah satu jalan keluar dari dua masalah tersebut.

Sementara ketika Anda mengalami depresi, umumnya Anda tidak berdaya untuk menganalisis apa penyebabnya sehingga reaksi yang muncul justru menjadi masalah. Biasanya depresi terjadi dalam durasi waktu yang lebih lama dibanding stres. Gangguan seperti sulit tidur, malas bertemu orang, hingga susah makan dan gangguan pencernaan bisa timbul karena kondisi tersebut.

Jadi, bila Anda mulai menangkap sinyal stres, usahakan untuk langsung mengatasinya agar tidak berlarut-larut dan memicu depresi! (Sbg/Er)

Comments