perceraian
Source: https://www.focusonthefamily.com

Sabigaju.com – Pernikahan adalah bagian dari perjalanan hidup untuk memenuhi kebutuhan jasmani rohani, lahir batin setiap pasangan.

Hampir semua pasangan di dunia mengharapkan hubungan yang happily ever after hingga maut dapat memisahkan mereka. Akan tetapi dalam menjalani suatu hubungan kadang tidak semua pasangan mengalami ending yang baik.

Bahkan terdapat indikasi bahwa semakin ke depan angka perceraian justru semakin tinggi.

Fenomena Peningkatan Angka Perceraian

Terdapat data dalam lima tahun terakhir pada 2010-2014 yang menyatakan bahwa perceraian meningkat hingga 52%. Dimana sebanyak 70% perceraian diajukan oleh sang istri.

Pusat penelitian dan pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementrian Agama (Kemenag) menyebutkan bahwa angka perceraian pada 2010-2014 dari sampel data dua tahun terakhir pada tahun 2012: menikah 2.291.265 kejadian, cerai 372.577 kejadian. Tahun 2013: menikah 2.218.130 kejadian, cerai 324.527 kejadian.

Jika diambil tengahnya maka angka perceraian di dua tahun itu terjadi sekitar 350.000 kasus. Berarti dalam satu hari rata-rata terjadi 959 kasus perceraian atau 40 perceraian setiap jam.

Faktor Penyebab Perceraian

source: http://mafelux.blogspot.co.id

Masih dari data dan Puslitbang dan Kemenag tersebut terungkap bahwa perceraian tersebut terjadi karena rumah tangga tidak harmonis, tidak ada tanggung jawab, faktor ekonomi, dan pihak ketiga.

Lebih tepatnya lagi karena terjadi kekurangan nafkah lahir dan batin. Nafkah lahir adalah kewajiban pasangan untuk saling menghidupi, misalnya berkontribusi dalam pengelolaan ekonomi rumah tangga. Adapun nafkah batin adalah cara pasangan suami istri memperlakukan satu sama lain.

Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kemenag Muharam Marzuki mengatakan bahwa alasan perceraian karena rumah tangga tidak harmonis adalah kondisi kompleks yang mencakup setidaknya 15% aspek berumah tangga.

Ditambahkan juga faktor lain yang masih berkaitan dari pihak Pemberdayaan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Sudibyo Alimoeso. Menurut Sudibyo ada tiga hal umum yang melatarbelakangi perceraian, yakni faktor ekonomi, psikologi dan ketiadaan ruang pengaduan masalah keluarga.

Faktor ekonomi terkait erat dengan kesiapan calon pengantin untuk bertanggung jawab secara ekonomi. Sementara faktor psikologi berhubungan dengan kematangan atau kesiapan mental calon pengantin untuk mengarungi rumah tangga mereka.

Ada lagi hasil laporan penelitian seperti dipaparkan laporan riset Tren Cerai Gugat di Kalangan Muslim Indonesia. Penelitian tersebut mengambil sampel pasangan suami-istri berusia maksimal 25 tahun dengan usia pernikahan 5 tahun.

Di riset ini ditemukan bahwa pasangan muda era kini banyak yang tidak mengerti bahwa menikah berarti tanggung jawab terhadap sesama dan juga keluarga suami atau istri. Masalah yang paling sering terjadi ialah adanya komunikasi yang buruk antara suami dan istri, orangtua, mertua dan ipar. Yang lebih parahnya, persepsi tentang pernikahan disamakan dengan pacaran, yaitu jika tidak cocok boleh putus hubungan.

Pertimbangkan dengan Matang Sebelum Menikah

ilustrasi pixabay

Perceraian memang merupakan momok yang mengerikan bagi setiap pasangan yang mengharapkan hubungan jangka panjang. Meskipun demikian tetap mempertahankan pernikahan namun diisi dengan penderitaan juga bukan merupakan hal yang wise untuk dijalankan.

Maka, melakukan persiapan mental dan psikologis serta mencari bekal yang cukup untuk maju ke dalam kehidupan pernikahan adalah suatu hal yang wajib dilakukan. Karena menikah itu sekali namun untuk selamanya.

Perbedaan pandangan yang berujung pada konflik adalah suatu hal yang normal dalam pernikahan. Jika saja suatu konflik bisa dikelola dengan baik maka akan tercipta toleransi dan kompromi dalam pernikahan dan kualitas komitmen itu sendiri. (Sbg/Ary)

Comments