penipuan online

Sabigaju.com – Skandal asmara barangkali adalah trik yang paling mudah dilakukan untuk melakukan penipuan. Berpura-pura jatuh cinta, kemudian niat baik yang didapat malah dimanfaatkan untuk melakukan penipuan.

Menurut pasal 378 KUHP, penipuan adalah sebuah tindakan yang menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan cara melawan hukum, dengan memakai nama palsu, martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan yang bertujuan menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang kepadanya, atau memberi hutang maupun menghapuskan piutang atas nama korban. Mengacu pada dasar tersebut, maka segala bentuk kebohongan mengatasnamakan cinta demi memberi keuntungan bagi salah satu pihak semata, bisa dikatakan penipuan.

Penipuan semacam itu banyak terjadi seiring makin berkembangnya teknologi dan media sosial. Dunia maya menjadi lapak yang nyaman bagi para penipu! Caranya sih umum, biasanya pelaku pura-pura jatuh cinta pada korban untuk ‘mengikat’-nya secara emosional, dengan begitu si penipu akan lebih mudah mendapatkan apa yang ia mau. Namun seiring berjalannya waktu, motif penipuan online yang mengatasnamakan cinta semakin berkembang. Sebaiknya Anda berhati-hati apabila kejadian seperti ini ada di sekitar Anda.

Motif Penipuan Online yang Sering Terjadi

1. Tujuan seks yang berujung pemerasan

Beberapa penipu berusaha mencari ‘kuncian’ agar ia bisa memeras korbannya. Setelah pura-pura jatuh cinta, mereka akan mengondisikan pertemuan agar keduanya bisa melakukan hubungan seks, yang tentunya semua dibiayai pihak korban.

Tak jarang pelaku meminta korban melakukan tindakan seks via webcam. Dalam kondisi tersebut, pelaku akan dengan sigap merekam dan rekaman itu dijadikan ‘alat’ untuk memeras korban. Pelaku akan meminta sejumlah uang dengan ancaman penyebaran video.

2. Pro-dater

Setelah mengincar calon korban lewat internet, pelaku pun mengatur rencana penipuan. Untuk modus ini, penipu mempersiapkan segalanya lebih detail lagi. Penipu akan membuat korbannya menghabiskan uang sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Dalam modus ini si penipu tidak bergerak sendiri, ia punya kaki tangan yang turut melancarkan aksinya. Misal; Anda diajak naik taksi dan taksinya pun merupakan kaki tangan dia, yang sudah diatur untuk membayar jauh lebih mahal dari tarif normal. Lalu Anda diajak makan di restoran mahal, dan diminta untuk membelikannya barang-barang yang mahal pula dalam sesi ‘window shopping’.

Penipuan ini hanya akan dilakukan satu kali terhadap satu korban, jadi setelah rencananya berjalan lancar, dia akan meninggalkan korban begitu saja. Korban baru akan merasa dirinya sedang ditipu setelah pelaku tidak bisa lagi dihubungi sepulang kencan mereka.

3. Penjual kisah palsu

Menarik perhatian seseorang dengan cara menjual kisah palsu yang bikin empati sangat mudah dilakuan! Setelah berkenalan via media sosial dan mendapatkan kesempatan untuk ngobrol di ruang privat, pelaku pun akan mulai menjual kisah menyedihkan tentang hidupnya yang tentu saja palsu. Setelah berhasil merebut empati, pada akhirnya itu akan menjadi celah bagi pelaku untuk memperalat korbannya.

Ada baiknya jika berkenalan dengan orang asing via internet, ajaklah dia bertemu di tempat ramai dan hindari untuk langsung berduaan secara privat sampai Anda yakin betul bahwa dia adalah orang yang baik dan jujur. (Sbg/Ftr)

Comments