Boyan Slat adalah salah satu anak muda yang dikagumi dunia lantaran gagasannya untuk membersihkan sampah di laut Pasifik Utara dengan cara brilian dapat dilakukan dengan tempo 5 tahun. (Foto: De Telegraaf)
Boyan Slat adalah salah satu anak muda yang dikagumi dunia lantaran gagasannya untuk membersihkan sampah di laut Pasifik Utara dengan cara brilian dapat dilakukan dengan tempo 5 tahun. (Foto: De Telegraaf)

Sabigaju.com – Sebagai negara maritim alias negara yang memiliki lautan begitu luas hal yang ironis adalah Indonesia merupakan penyumbang sampah di laut terbesar nomor dua di dunia.

Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton. Yup, sampah akan menjadi masalah krusial yang mesti ditangani.

Nah, ditengah ironi dan pusingnya petinggi negeri ini mengurus sampah yang terhampar di lautan kita, seorang anak muda bernama Boyan Slat malah telah menemukan cara membersihkan dan mengolah sampah di laut Pasifik Utara.

Apa yang dilakukan Boyan untuk membersihkan sampah dari lautan? Simak ulasannya berikut ini, Sob!

Gagas The Ocean Clean Up untuk bersihkan Sampah di Laut

Dibanding para aktivis lingkungan lain, Boyan Slat bisa dibilang anak bau kencur yang usianya baru menginjak 22 tahun. Namun, hal itu tak menghalanginya untuk memiliki pemikiran luar biasa.

Hal itu dibuktikan pada 2014 lalu, Boyan Slat menjadi penerima penghargaan lingkungan termuda dari PBB, Champion of the Earth, lantaran prototipe Ocean Vacuum Ocean Cleanup yang digagasnya dinobatkan sebagai salah satu penemuan terbaik 2015 versi Majalah Time.

View this post on Instagram

The Great Pacific Garbage Patch . . . Over 5 trillion pieces of plastic currently litter the ocean. The Great Pacific Garbage Patch is about three times the size of France. The United Nations Ocean Conference estimated that the oceans might contain more weight in plastics than fish by the year 2050. Some long-lasting plastics end up in the stomachs of marine animals, mature and immature. We need to keep millions of tons of plastic out of our oceans or, one day, we’ll have more plastic than fish. . . . https://news.nationalgeographic.com/2018/03/great-pacific-garbage-patch-plastics-environment/ . . . #heartday #oceancleanup #thegreatpacificgarbagepatch #carolinepowerphotography #wehaveonlyoneearth #saveouroceans #saveouroceans

A post shared by Giulietta Lapponi (@_.giulietta.03_) on

Pencapaian ini berawal saat pada 2012 silam ia memaparkan misinya membersihkan laut dengan memberi gagasan membersihkan The Great Pacific Garbage Patch, kawasan luas yang penuh sampah plastik. Tepatnya, di Laut Pasifik utara antara California dan Hawaii.

The Great Pacific Garbage Patch sendiri pertama kali ditemukan pada 1997 oleh peneliti kelautan Charles Moore. Ketika itu, ia berpartisipasi dalam lomba kapal pesiar Transpacific.

View this post on Instagram

Assembly yard & San Francisco

A post shared by Boyan Slat (@boyanslat) on

Slat telah menghabiskan enam tahun mempelajari arus laut dan The Great Pacific Garbage Patch untuk lebih memahami ruang lingkup masalah dan mengembangkan cara paling efektif untuk mengumpulkan sampah dan membersihkannya dari lautan. Organisasinya mempekerjakan lebih dari 70 insinyur, peneliti, ilmuwan, dan pemodel komputer untuk pekerjaan ini.

Ubah Sampah di Laut Jadi Duit

Nah, proyek bernama The Ocean Cleanup ini menarik perhatian khalayak luas lagi dengan desain baru yang lebih baik dari sebelumnya. Proyek raksasa ini akan segera dimulai di Samudera Pasifik pada 2018, dua tahun lebih cepat dari jadwal yang sebelumnya ditentukan.

Teknologi ini akan dipasang di The Great Pacific Garbage Patch, kawasan di Samudera Pasifik yang begitu penuh sampah. Bongkahan-bongkahan sampah plastik yang mengambang di permukaan maupun di dalam air laut akan diangkut.

Dengan desain terbarunya, Slat mengatakan teknologi ini tak hanya mampu membersihkan lebih banyak sampah, yakni dari 42% menjadi 50%, namun juga mampu melakukannya dengan waktu yang lebih cepat. Dari 10 tahun menjadi 5 tahun.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang akan dilakukannya dengan sampah-sampah plastik tersebut? Slat mengatakan, dalam rencana jangka panjang, perusahaannya akan mendaur ulang plastik-plastik tersebut menjadi kacamata, suku cadang kendaraan, dan produk lain yang bisa dijual.

Wah, sepertinya Boyan Slat bakal tajir melintir berkat mengolah limbah menjadi  duit yang berlimpah. Selamat, Boyan! (Sbg/Rig)

Comments