Sabigaju.com – Hukum di India menegaskan bahwa lelaki legal memperkosa istrinya. Namun seorang hakim pengadilan tinggi mengatakan semestinya tindak pemerkosaan terhadap istri oleh suaminya tetaplah tindakan kriminal.

Hakim yang mengatakan hal tersebut adalah J.B. Pardiwala dari Pengadilan Tinggi Gujarat. Ia sedang memimpin kasus yang melibatkan seorang wanita yang menuduh suaminya melakukan penyerangan secara seksual kepadanya. Sang suami berulang kali memaksakan seks padanya, demikian kutip Huffington Post dari the Hindustan Times. Wanita tersebut menuduh sang suami melakukan penyiksaan mental dan fisik.

Sayangnya, Senin lalu Pardiwala memutuskan bahwa suami tidak dapat dituntut dengan tuduhan perkosaan dalam kasus ini. Pasalnya, KUHP India secara eksplisit menyatakan bahwa tindakan seksual oleh seorang pria dengan istrinya sendiri tidak bisa disebut perkosaan. Namun, pria tersebut menurut hakim bisa dituduh telah melakukan hubungan seksual, pelecehan, dan kekejaman pada pasangan.

Perdiwala sesungguhnya kecewa dengan keterbatasan hukum yang mempengaruhi putusannya terkait kasus tersebut. Bagaimana pun juga, dia menganjurkan untuk kriminalisasi perkosaan dalam perkawinan dan mengatakan bahwa pelarangan seks nonkonsensual dalam pernikahan merupakan langkah pertama yang dibutuhkan untuk mengajarkan kepada masyarakat yang bertindak tidak memanusiakan wanita tidak akan ditoleransi. Dikutip dari Huffington Post, “Pemerkosaan dalam pernikahan bukan hak istimewa seorang suami, melainkan tindakan kekerasan dan ketidakadilan yang harus dikriminalisasikan,” ungkap Perdiwala.

80 Persen Wanita di India Pernah Mengalami Perkosaan. (Foto: unsplash.com)

80 Persen Wanita di India Pernah Menjadi Korban Pemerkosaan

Data menunjukkan bahwa kasus pemerkosaan dalam rumah tangga merupakan masalah yang tersebar luas di India. Berdasarkan Survei Kesehatan Keluarga Nasional 2018, lebih dari lebih dari 80 persen wanita menikah pernah mengalami kekerasan seksual dan menyebut pasangan mereka saat ini sebagai pelaku.

Mundur beberapa tahun sebelumnya, tepatnya tahun 2014. Dalam sebuah survei yang dilakukan pada tahun itu terhadap 9.200 pria di tujuh negara bagian India, sepertiganya mengaku telah memaksakan tindakan seksual pada istri mereka. Data tersebut semakin menegaskan bahwa pemerkosaan terhadap istri hampir bisa dikatakan sesuatu yang lumrah di India.

Mihira Sood, seorang pengacara yang tinggal di New Delhi, India mengatakankepada Huffington Post tahun 2015 silam bahwa pemerkosaan dalam keluarga merupakan masalah yang sangat luas. Hal ini juga diperparah dengan fakta bahwa tindakan tersebut tidak diakui sebagai pelanggaran, baik secara hukum maupun oleh banyak masyarakat yang melihat terjadinya kasus ini dalam lingkup pernikahan.

Keputusan Pengadilan Tinggi Gujarat menurut para pengamat merupakan langkah positif menuju kriminalisasi pemerkosaan dalam rumah tangga di India. Meskipun sudah dibarengi dengan tekanan publik yang terus meningkat, tetapi indikasi untuk revisi yang akan datang belum ada. Pemerintah India tahun lalu mendorong kembali usulan bahwa pemerkosaan dalam pernikahan harus dilarang dengan mengatakan bahwa perubahan seperti itu bisa mengacaukan institusi pernikahan. (sbg/Erny)

Comments