Sabigaju.com – Minggu (18/03/2018) merupakan hari dilaksanakannya Omed-omedan atau tradisi ciuman massal pasca Hari Raya Nyepi (17/03/2018). Festival Omed-omedan sendiri merupakan warisan budaya di Bali yang masih dilestarikan hingga sekarang. Festival ini merupakan ciuman massal ala anak muda Bali. Tradisi ciuman massal ini dilakukan oleh para pemuda dan pemudi di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar dan merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap tahun untuk melestarikan warisan leluhur.
Sejarah Omed-omedan

Omed-omedan dalam bahasa Indonesia memiliki arti tarik-menarik. Belum ada data historis pasti yang menyebutkan sejak kapan tradisi ciuman massal ini dilakukan oleh warga Banjar Kaja, Sesetan. Pada mulanya, tradisi ini berlangsung pada saat hari raya Nyepi dan dilakukan di Puri Oka. Puri Oka sendiri merupakan sebuah kerajaan kecil pada zaman penjajahan Belanda.

Menurut cerita, raja Puri Oka, Ida Bhatara Kompiang, sedang sakit keras dan tidak kunjung sembuh sekali pun sudah berobat ke berbagai tabib. Pada saat itu, penduduk desa Sesetan dihimbau untuk tidak melakukan keributan di depan Puri. Namun, sehari setelah hari raya Nyepi, masyarakat kerajaan setempat menggelar permainan Omed-omedan dan suasana sempat riuh karena antusias para pemuda dan pemudi sehingga memicu kemarahan Raja Puri Oka.

Ketika Raja Puri Oka keluar untuk memarahi warga, beliau mendadak tidak lagi merasakan sakit dan sembuh secara seketika. Raja merasa mendapatkan mukjizat setelah melihat adegan rangkul-merangkul para pemuda dan pemudi yang membaur. Raja kemudian memberikan titah untuk menggelar ritual Omed-omedan setahun sekali pada hari Ngembak Geni (sehari setelah Hari Raya Nyepi).

Pemerintah Belanda pada saat itu sempat melarang digelarnya ritual tersebut sehingga terpaksa dihentikan. Namun, saat Omed-omedan tidak digelar, terdapat dua ekor babi besar yang berkelahi hingga berdarah di tempat dilaksanakan Omed-omedan. Karena dianggap sebagai pertanda buruk, akhirnya setelah meminta petunjuk leluhur, tradisi ini kembali digelar.

Khusus bagi yang Belum Menikah

Acara Omed-omedan diawali dengan sembahyang bersama di Pura. Kemudian, acara dilanjutkan dengan pementasan Barong Bangkung Jantan dan Betina. Setelah selesai, barulah kelompok peserta akan mulai memasuki pelataran Pura.

Tradisi Omed-omedan dikhususkan bagi para pemuda dan pemudi yang belum menikah berusia sekitar 17-30 tahun. Para pemuda dan pemudi akan dipisahkan dalam dua kelompok, yaitu laki-laki dan perempuan serta berbaris satu bujur ke belakang dengan posisi berhadap-hadapan. Sebelum acara mulai, musik gamelan dimainkan. Seorang sesepuh desa akan memberikan aba-aba agar kedua kelompok saling mendekat.

Saat kedua kelompok ini mendekat, peserta terdepan dari masing-masing kelompok akan saling gelut (peluk), lalu diman (cium), kemudian siam (disiram air) dan peserta lainnya ngedengin (tarik-menarik). Begitu seterusnya hingga seluruh peserta mendapatkan giliran. Sementara itu, para penonton yang menyaksikan akan tertawa lepas melihat keseruan acara ini.

Meskipun rutin digelar, tidak sedikit peserta wanita tampak malu-malu. Sebaliknya, peserta pria justru antusias sehingga mengundang gelak tawa penonton. Tradisi Omed-omedan ini bertujuan untuk memperkuat rasa asah, asih dan asuh antar warga khususnya warga Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar. (Sbg/Vania)

Comments