Pantai Kartini bermula dari nama seorang wanita, namun jatuh karena wanita.

Sabigaju.com – Bagi Anda yang suka dengan wisata alam, pasti pernah mendengar nama Pantai Kartini. Dilihat dari namanya, tentu Pantai Kartini mengingatkan Anda kepada salah satu tokoh pahlawan Indonesia. Demi menghormati jasa-jasa Kartini, pemerintah Kabupaten Jepara menamai pantai seluas 3,5 ha ini dengan Pantai Kartini. Pada perkembangannya, Pantai Kartini menjadi menjadi salah satu andalan Kabupaten Jepara untuk menarik wisatawan datang. Tak ayal, berbagai macam kegiatan sering diadakan di Pantai Kartini. Salah satu yang masih hangat adalah acara kumpul anggota komunitas motor. Dalam acara tersebut, panitia menghadirkan penari erotis sebagai salah satu hiburan.

Akibatnya, respon negatif mulai bermunculan. Banyak yang menuding acara seperti itu tidak lebih dari sekadar pornografi. Hal tersebut memunculkan ironi bagi Pantai Kartini; ia terkenal dan jatuh karena wanita.

Baca juga: Selain Kartini, Inilah Lima Pejuang Wanita yang Terlupakan

Terkenalnya Pantai Kartini

21 April 1879 menjadi hari yang membahagiakan bagi R.M Sosroningrat dan M.A Ngasirah. Di hari itu, anak perempuan mereka telah lahir. Semasa kecil, anak perempuan mereka tersebut dikenal sebagai anak yang lincah, sehat dan gesit. Oleh karena itu, R.M Sosroningrat menjuluki anaknya dengan sebutan Trinil.

Semasa kecil, Trinil sangat menyukai sekolah. Hingga umur 12 tahun, Trinil bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Dari situ, Trinil belajar mengenai Bahasa Belanda, matematika, dan keahlian dasar lainnya. Selain itu, Trinil juga sangat menyukai pantai di dekat rumahnya. Setiap ada waktu luang, Trinil dan saudara-saudaranya selalu pergi ke pantai untuk bermain.

Memasuki umur hampir 13 tahun, dunia Trinil menjadi sempit. Trinil harus kehilangan kesenangan masa kecilnya lantaran tradisi Jawa yang mengharuskannya memasuki masa “pingitan”. Di masa itu, seorang wanita tidak boleh keluar rumah karena di umur itu wanita harus mempersiapkan diri untuk dinikahkan.

Trinil mengalami tekanan mental yang berat. Otaknya terus memikirkan rendahnya kedudukan perempuan di tradisi Jawa kala itu. “Berlalu sudah! Masa muda yang indah sudah berlalu!” tulis Trinil saat menyurati Rosa Manuela Abendanon-Mandri, istri kedua Jacques Henrij Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Industri, dan Agama Hindia Belanda mengenai nasibnya saat dipingit.

Namun, ada yang patut disyukuri oleh Trinil. Dirinya memiliki waktu untuk membaca buku. Kakaknya, R.M Panji Sosrokartono sering mengirimkan Trinil buku-buku dari Universitas Leiden, Belanda. Selain itu, Trinil juga sering membaca kotak bacaan (leestrommel) langganan milik ayahnya yang berisi buku, koran, dan majalah dari dalam dan luar negeri. Tanpa sadar, buku-buku politik hingga budaya yang dibaca Trinil membuatnya menjadi perempuan yang ingin mendobrak tradisi yang membuat kaum perempuan tertindas.

Pada akhirnya, Trinil, yang memiliki nama asli Kartini, dikenal sebagai perempuan yang memiliki gagasan-gagasan tentang perempuan independen. Atas jasanya, perempuan zaman sekarang mampu memiliki pilihan atas hidupnya masing-masing.

Atas dasar itulah, Pemerintah Kabupaten Jepara menetapkan pantai tempat bermain Kartini sebagai Pantai Kartini.

Baca juga: Rayakan Hari Kartini, Yuk Pakai Emoji Kartini Keren dari Twitter

Jatuhnya Pantai Kartini

15 April 2018, para anggota komunitas motor sudah berkumpul di Pantai Kartini. Rencananya, mereka akan menggelar acara ulang tahun salah satu klub motor dengan orgen tunggal dan pentas dangdut. Namun, acara tersebut malah diselingi dengan sesi penari seksi. Sebanyak 3 wanita dengan busana bikini menari di bawah guyuran semprotan air. Lantas, acara tersebut dibubarkan oleh pihak berwajib.

Hingga saat ini, polisi sudah menetapkan 6 orang tersangka yang terdiri dari 2 orang panitia acara, 1 agen penghubung, dan 3 orang penari. Maksimal hukuman yang mereka dapatkan adalah 15 tahun penjara.

Hal tersebut menimbulkan respon negatif di kalangan masyarakat. Dikutip dari Tempo.co, Hadi Priyatno selaku Ketua Yayasan Kartini Indonesia sangat menyesalkan acara penari seksi di Pantai Kartini pada Sabtu (14/4) yang sarat akan nilai pornografi. Menurutnya, acara tersebut seharusnya tidak dilakukan karena hari tersebut bertepatan dengan umat Islam yang sedang merayakan Isra Miraj.

Namun, yang paling utama adalah sangat disayangkan jika acara tersebut dilakukan di Pantai Kartini. Cita-cita Kartini adalah memberikan kesempatan bagi perempuan untuk lebih bermartabat dan memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Cita-cita tersebut akan menjadi ironi jika masih ada perempuan yang mau merelakan tubuhnya ditampilkan secara erotis. (sbg/Erny)

Comments